Kajian Psikoanalisis Naskah Malam Jahanam karya Matinggo Boesjo

Kajian Psikoanalisis Naskah “Malam Jahanam” karya Matinggo Boesjo[1]

Oleh

Siti Sopiah[2]

 

Abstrak:

Karya sastra adalah sebuah karya yang bermediumkan bahasa, baik berupa bahasa tulisan maupun lisan, yang memiliki keindahan tertentu dan memilki nilai seni yang tinggi. Naskah drama merupakan salah satunya. Karya sastra diciptakan oleh seorang pengarang yang telah bersinggungan dengan alam sekitarnya dan juga dengan manusia. Berbagai problematika kehidupan disajikan dalam sebuah karya sastra. Tidak hanya persoalan manusia dengan manusia lainnya tetapi juga persoalan manusia dengan apa yang ada di dalam dirinya – jiwa manusianya sendiri. Persoalan kejiwaan tokoh ini dapat dianalisis melalui pendekatan psikoanalisis.

Kata Kunci :

Sastra, drama, psikoanalisis, dan karya sastra

 

A.    Pendahuluan

Karya sastra merupakan cerminan dari budaya yang didalamnya terdapat ide, gagasan, dan pengalaman-pengalaman kehidupan yang diwujudkan melalui  bahasa sehingga timbul suatu keindahan tersendiri dalam setiap bahasanya dan memiliki nilai seni yang tinggi. Sastra merefleksikan kehidupan manusia; ungkapan emosi manusia; persoalan-persoalan manusia dengan alam; manusia dengan manusia lain; manusia dengan dirinya sendiri; atau bahkan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Secara tidak langsung sastra menggambarkan semua itu dengan mendeskripsikan kehidupan yang nyata kedalam sebuah bentuk karya. Pada dasarnya, karya sastra terbentuk dari sebuah pemikiran dan pengamatan akan sebuah kehiudpan. Adapun wujud fiksi yang lebih mendominasi bagian-bagian karya sastra umumnya merupakan hasil dari kreativitas pengarang dalam mengembangkan imajinasinya terhadap kehidupan alam semesta.

Sastra erat kaitannya dengan manusia, baik secara sosiologis maupun psikologis. Manusia menjadi objek penting dalam penciptaan karya sastra, salah satunya melalui sebuah drama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) drama memiliki arti sebagai komposisi syair atau prosa yg diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yg dipentaskan. Drama adalah suatu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Kosakata ini berasal dari bahasa Yunani  δρᾶμα”  yang berarti “aksi” atau “perbuatan” (http://id.wikipedia.org/wiki/Drama).

Pada mulanya drama di Indonesia tidak memakai naskah, hanya mempertunjukan sandiwara tradisional saja. Namun sejak jaman Pujangga Baru sekitar tahun 1920-an barulah timbul penulisan naskah drama dan lakon. Naskah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah karangan yang masih ditulis dengan tangan. Menurut Sendarasik naskah drama merupakan bahan dasar sebuah pementasan dan belum sempurna bentuknya apabila belum dipentaskan.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa naskah drama adalah suatu karangan atau karya yang masih berupa tulisan tangan sebagai dasar bagi suatu pementasan drama dan belum sempurna bentuknya apabila belum diterbitkan atau dipentaskan dengan adanya aktor-aktor sebagai pemeran dari drama tersebut.

 

 B.     Kajian Teori

1.      Psikologi

Secara etimologi, psikologi berasal dari bahasa Yunani kuno Psychē yang berarti jiwa dan –logia yang artinya ilmu, sehingga psikologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Psikologi memiliki akar dari bidang ilmu filosofi yang diprakarsai sejak jaman Aristoteles sebagai ilmu jiwa yaitu ilmu kekuatan hidup (levens beginsel).

Manusia menjadi objek kajian ilmu psikologi. Dalam proses pemahaman tentang kepribadian seseorang, ilmu psikologi ini dijadikan landasan dasar bagi peneliti. Ada beberapa metodologi yang terdapat dalam psikologi, di antaranya: a) metodologi eksperimental yang biasanya dilakukan di dalam laboratorium dengan mengadakan berbagai eksperimen dengan kontrol penuh terdapat pada peneliti, b) metode observasi ilmiah yang dilakukan pada situasi-situasi yang ditimbulkan dengan tidak sengaja melainkan dengan proses ilmiah dan secara spontan, c) metode sejarah kehidupan (metode biografi) dengan mengacu pada sejarah kehidupan seseorang yang dijadikan sebagai data yang penting untuk mengetahui jiwa orang yang bersangkutan, d) metode wawancara yang merupakan tanya jawab si pemeriksa dan orang yang diperiksa dengan suatu kebebasan yang luas bagi si pemeriksa untuk menggali informasi-informasi yang dibutuhkan mengenai orang yang diperiksa (bisa melalaui angket atau interview), e) metode angket yang merupakan bentuk wawancara tertulis, f) metode pemeriksaan psikologi atau lebih dikenal dengan sebutan psikotes dengan menggunakan alat-alat psikodiagnostik tertentu yang hanya dapat digunakan oleh para ahli yang sudah benar-benar terlatih, g) metode analisis karya yaitu dengan cara menganalisis hasil karya seseorang, dan h) metode statistik yang digunakan dengan cara mengumpulkan data atau materi dalam penelitian lalu mengadakan penganalisaan terhadap hasil yang telah didapat.

Sebagai salah satu ilmu pengetahuan, psikologi memiliki tiga fungsi, diantaranya:

a)      Menjelaskan, yaitu mampu menjelaskan secara deskriptif tentang tingkah laku seseorang

b)      Memprediksikan, yaitu mampu memprediksikan tingkah laku seseorang yang hasilnya berupa prognosa, estimasi atau prediksi

c)      Pengendalian, yaitu mengendalikan tingkah laku seseorang sesuai dengan yang diharapkan.

Ketiga fungsi tersebut dapat di analisis melalui beberapa teori pendekatan psikolgi, salah satunya dengan menggunakan metode pendekatan psikoanalisis.

 

2.      Psikoanalisis dan Sastra

Teori psikoanalisis pertama kali dikemukakan oleh Freud pada tahun 1890. Ia adalah orang pertama yang memetakan alam bawah sadar manusia berdasarkan pengalaman-pengalamnannya dalam merawat pasien-pasien neurotik. Ia mengetahui bahwa banyak sikap dan perasaan yang diungkapkan oleh pasien-pasiennya tidak mungkin berasal dari alam sadar, melainkan dari alam bawah sadar. Pengalaman-pengalaman Freud dalam terapi memberi keyakinan bahwa ketidaksadaran merupakan faktor penentu tingkah laku yang penting dan dinamik (Semium, 2006: 55).

Psikoanalisis dalam pengertian modern yaitu pengetahuan psikologi yang menekankan pada dinamika, faktor-faktor psikis yang menentukan perilaku manusia serta pentingnya masa kanak-kanak dalam membentuk masa dewasa.

 Dalam sastra, psikoanalisis ini diterapkan dalam menemukan aspek-aspek kejiwaan pada sebuah karya. Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk memahami hubungan antara psikologi dengan sastra, yaitu : a) memahami unsur-unsur kejiwaan pengarang sebagai penulis, b) memahami unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional dalam karya sastra, dan c) memahami unsur-unsur kejiwaan pembaca. Akan tetapi, Ratna (2004: 343) berpendapat bahwa pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang kedua, yaitu pembicaraan dalam kaitannya dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam karya.

Freud juga menghubungkan karya sastra dengan mimpi. Mimpi bukanlah terjemahan langsung realitas. Oleh karena itu, pemahaman terhadap eksistensinya mesti dilakukan melalui interpretasi (Ratna, 2004: 346). Bagi Freud mimpi-mimpi adalah sumber yang sangat penting bagi sebuah ketidaksadaran. Misalnya, ketika pengalaman-pengalaman seseorang pada waktu kecil muncul melalui mimpi-mimpi orang tersebut ketika ia dewasa, meskipun orang yang bermimpi tidak mengingat pengalaman-pengalaman tersebut. Proses-proses tak sadar ini sering muncul melalui mimpi.

Dalam teori psikoanalisis Freud, ia memperkenalkan model struktural yang menggambarkan pikiran manusia sebagai campuran atau gabungan dari kekuatan-kekuatan di mana bagian-bagian dari kepribadian sadar juga dapat mengandung isi tak sadar. Menurutnya bagian terpenting dari kejiwaan manusia dibagi menjadi tiga, yakni id, ego, dan super ego. Ketiga aspek itu masing-masing mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dinamika sendiri-sendiri, namun ketiganya berhubungan dengan rapatnya sehingga sukar (tidak mungkin) untuk memisah-misahkan pengaruhnya terhadap tingkah laku manusia; tingkah laku selalu merupakan hasil sama dari ketiga aspek itu (Suryabrata, 1982: 125). Maka dari itu, ketiga aspek ini akan dijadikan landasan dasar dalam mengkaji tokoh-tokoh yang ada dalam karya sastra.

Id adalah aspek biologis; merupakan sistem yang original di dalam kepribadian manusia; merupakan bagian yang sangat primitif yang sudah beroperasi sebelum bayi berhubungan dengan dunia luar, maka ia mengandung semua dorongan bawaan yang tidak dipelajari yang dalam psikoanalisis disebut insting-insting.

Ego adalah aspek yang tumbuh dari id pada masa bayi dan menjadi sumber dari individu untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Aspek ini terorganisasi dan hadir untuk memajukan tujuan-tujuan id, bukan untuk mengecewakannya, dan seluruh dayanya berasal dari id.

Superego adalah bagian moral atau etis dari kepribadian yang mulai berkembang pada waktu ego menginternalisasikan norma-norma sosial dan moral. Superego merupakan perwujudan internal dari nilai-nilai dan cita-cita tradisional masyarakat, sebagaimana orang tua kepada anak-anaknya yang diajarkan dengan berbagai perintah dan larangan.

Aspek-aspek kejiwaan dalam tokoh menjadi objek penting dalam proses penelitian psikologi sastra. Untuk memahami dan mendapatkan penjelasan mengapa dan bagaimana sikap seorang tokoh dalam karya sastra diperlukan pemahaman yang luas tentang teori-teori kepribadian manusia. Pemahaman-pemahaman kepribadian tokoh dalam karya sastra dapat dianalisis melalui bahasa-bahasa yang ada di dalamnya. Dalam drama, dialog berperan penting dalam mendeskripsikan latar, tokoh, tema, alur, dan konflik. Drama menguraikan segalanya melalui kata-kata. Hal ini menunjukan bahwa secara tidak langsung sastra menampilkan ketaksadaran bahasa.

 

 C.    Deskripsi Data

Drama Malam Jahanam merupakan karya Motinggo Busye yang bernama asli Bustami Djalid (lahir di Kupangkota, Bandar Lampung, 21 November 1937 – meninggal di Jakarta 18 Juni 1999 pada umur 61 tahun) adalah seorang sastrawan terkemuka, sutradara, dan seniman Indonesia. Motinggo, sapaan akrabnya, lahir dari pasangan Djalid Sutan Raja Alam dan Rabi’ah Ja’kub yang berasal dari Minangkabau. Setelah menikah ibunya merantau ke Bandar Lampung. Disana ayahnya bekerja sebagai klerk KPM di Kupangkota, sedangkan ibunya mengajar agama dan Bahasa Arab. Ketika usianya mendekati 12 tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia. Ia lalu diasuh oleh neneknya di Bukittinggi hingga ia menyelesaikan SMA di sana. Motinggo kemudian melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum, Universitas Gajah Mada.

Kenangan akan sepeda roda tiga yang dipatahkan oleh perwira Jepang, yang kemudian digantikannya dengan mesin tik  dan “Mobil Buku” Balai Pustaka yang ditinggalkan lari sopirnya, mempunyai kesan yang mendalam pada diri sastrawan ini. Ketika ia sudah bisa membaca, buku-buku terbitan Balai Pustaka menjadi bacaannya yang pertama. Ketika ia masih menjadi pelajar SMP di Bukittinggi, bakat seninya mulai nampak melalui kemampuannya mengisi siaran sandiwara radio RRI Bukittinggi, ia sudah mulai bermain drama dan sudah menjadi sutradara. Melalui sandiwara itu ia mulai dikenal oleh para seniman senior. Selain bermain sandiwara, ia juga memiliki bakat melukis dan lukisan-lukisannya sudah dipamerkannya semasa SMA. Pilihannya untuk kuliah di Yogyakarta rupanya menumbuhkan bakat-bakat seninya yang lain. Ia berteman dan belajr pada seniman-seniman lainnya seperti Rendra, Kirjamulya, Nasyah Djamin. Kemudian ia bergabung juga dengan para seniman di Sanggar Bambu. Yogyakarta yang dihuni oleh banyak seniman dari berbagai bidang membuat Motinggo betah dan kemampuan seninya berkembang dengan pesat pada tahun 1960-an. Interaksinya dengan sastra (novel, cerita pendek, puisi) seni rupa, teater, dan film serta jurnalistik memperkaya dan mengembangkan bakat Motinngo dari berbagai segi, hingga ia pindah ke Jakarta bakatnya pun lebih berkembang lagi.

Nama Motinggo Busye mulai terkenal di Indonesia sebagai penulis cerita pendek dan drama. Hal ini dapat dilihat dalam karya-karyanya tersebut yang selalu mengisi media masa seperti Minggu Pagi, Budaya, Mimbar Indonesia, Kisah, Sastra, dan Aneka. Ia semakin terkenal ketika naskah dramanya Malam Jahanam memperoleh hadiah pertama sayembara penulisan drama yang diadakan oleh Kementerian P. P dan K pada tahun 1950, kemudian cerita pendeknya yang berjudul Nasehat Untuk Anakku mendapat hadiah dari majalah Sastra tahun 1962.

Naskah drama Malam Jahanam menjadi naskahnya yang paling terkenal. Naskah drama ini menceritakan tentang kehidupan sepasang suami istri dan tetangganya yang sudah menjadi sahabat suaminya di sebuah desa nelayan yang miskin. Drama ini mengisahkan pengkhianatan, kesombongan, dan keegoisan yang berujung pada penderitaan. Oleh karena itu, aspek-aspek yang akan saya kaji dalam drama ini adalah mengenai kejiwaan tokoh-tokohnya.

 

 D.    Pembahasan

Psikologi sastra atau psikoanalisis sastra meneliti sebuah karya sastra berdasarkan aspek-aspek kejiwaan pengarang, tokoh-tokoh dalam karya, dan pembaca. Akan tetapi, yang akan diteliti pada kajian ini adalah aspek kejiwaan tokoh-tokohnya. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa dalam psikoanalisis terdapat tiga bagian struktur yang membentuk kejiwaan atau kepribadiaan seseorang. Maka dari itu, tokoh-tokoh yang ada pada naskah Malam Jahanam ini akan dianalisis berdasarkan ketiga aspek tersebut.

 

1. Id

Id adalah aspek biologis; merupakan sistem yang original di dalam kepribadian manusia; merupakan bagian yang sangat primitif yang sudah beroperasi sebelum bayi berhubungan dengan dunia luar, maka ia mengandung semua dorongan bawaan yang tidak dipelajari yang dalam psikoanalisis disebut insting-insting. Id bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.

Tokoh Mat Kontan merupakan tokoh utama dalam naskah Malam Jahanam. Sebagai seorang suami, ia merasa bangga dengan kehadiran seorang istri yang cantik dan seorang anak. Kebanggaan yang dia rasakan memang hanya bisa dirasakan oleh dirinya sendiri tanpa melibatkan orang yang dibanggakannya untuk ikut merasakan hal yang sama. Mat Kontan mempunyai keinginan untuk memiliki sesuatu yang bisa membuat semua orang bangga dan iri padanya. Id sebenarnya ialah keinginan untuk memiliki sesuatu yang dapat mengangkat derajat kehidupannya, seperti memiliki seorang anak.

MAT KONTAN   :     Jangan takuti saya Man. Itu satu-satunya kebanggaan saya disamping burung dan bini saya Paijah. Saya telah terlanjur berdo’a pada Tuhan agar Cuma dikaruniai satu anak. Kalau si kecil mati tentu hilanglah kebanggaan saya sepotong.

Keinginannya yang lain juga terlihat dalam bagaimana ia memperlakukan burung-burungnya seolah menjadi hal yang lebih penting dibandingkan keluarganya. Dalam pemikiran Mat Kontan, memiliki burung-burung yang bagus dan mahal telah memuaskan hasratnya dalam mendapatkan pengakuan akan kekayaannya. Ia meninggalkan anak dan istrinya untuk bisa mendapatkan burung-burung itu.

MAT KONTAN   :     Kau mengejek saya ya?

SOLEMAN          :     Bukan mengejek, tapi kau ngak kasihan sama satu nyawa?

MAT KONTAN   :     Ya kasihan!

SOLEMAN          :     Kau ngak kasihan sama binimu?

MAT KONTAN   :     Ya kasihan!

SOLEMAN          :     Dari tadi ia tunggu kau datang.

MAT KONTAN   :     Benar? Masa! Ah, tak usah repot-repot perkara perempuan.

SOLEMAN          :     Kau terlalu mengutamakan burung daripada binimu dan si kecil.

MAT KONTAN   :     Memang!

Berdasarkan penggalan dialog diatas, terlihat bahwa Mat Kontan lebih mementingkan burung-burungnya daripada istri dan anaknya. Ia mengutamakan kesenangannya memelihara burung tanpa mempertimbangkan nasib anak dan istrinya yang selalu menunggunya pulang. Kesenangan Mat Kontan terhadap burung-burung adalah id yang terdapat dalam dirinya. Ia akan merasa segera puas apabila dirinya sudah mendapatkan burung yang diinginkannya. Disisi lain, ia juga gemar membangga-banggakan istrinya yang cantik dan kelahiran anak pertamanya pada masyarakat. Mat Kontan menyombongkan diri dengan segala yang ia miliki pada sahabatnya, Soleman. Namun, dalam sikap menyombongkan anak dan istrinya itu terdapat kegiatan mental ‘ketidaksadaran’ yang berupa perilaku Mat Kontan dalam membangga-banggakan istri dan anaknya. Perhatikan penggalan dialog berikut:

SOLEMAN          :     Memang. Kau tidak bangga punya bini cantik ha?

MAT KONTAN   :     Bangga? Sudah saya bilang tadi saya bangga. Saya kan sudah lama ngak ke kota Agung? Tadi saya ke sana. Saya bilang bahwa saya sudah punya anak satu sekarang. Anak, yang keluar dari rahim bini saya yang cantik.

SOLEMAN          :     Tapi kebangggaan itu tak pernah terasa oleh binimu.

MAT KONTAN   :     (MEMANGGIL) Paijah, Paijah!

PAIJAH                :     (MUNCUL). Ada apa?

MAT KONTAN   :     Saya akan mengatakan kepadamu bahwa saya tadi ke kota Agung dan bertemu dengan kawan-kawan lama.Saya bilang, bahwa kau sudah punya anak sekarang.

Berdasarkan dialog tersebut, tidak ada sama sekali rasa bangga dari dalam diri Mat Kontan terhadap anak dan istrinya. Hal ini tersamarkan dari sikapnya yang membangga-banggakan mereka secara berlebihan dan terang-terangan. Jika tidak demikian, maka secara psikologis akan menimbulkan kecemasan pada diri Mat Kontan sendiri. Hal ini memotivasinya untuk mengungkapkan ketidakbanggaannya itu dengan membangga-banggakan mereka kepada masyarakat sementara pada kenyataannya istri dan anaknya itu tidak pernah merasakan rasa bangga yang ia umbar-umbarkan kepada orang lain.

Itulah beberapa id yang terdapat dalam diri Mat Kontan. Sifat sombong dan pemberaninya ia gunakan sebagai bentuk penyamaran terhadap suatu ketakutan yang dirinya miliki lalu ia mulai dengan gamblangnya mengumbar-ngumbar kebanggaannya terhadap anak dan istrinya kepada masyarakat terutama sahabatnya Soleman. Hal itu merupakan kesenangan semata dimana ia akan merasa sangat puas bila semua hal itu dapat terpenuhi. Dan keegoisan muncul dalam mewujudkan kesenangannya tersebut.

Berbeda dengan sahabatnya Soleman yang memiliki kepribadian yang jauh lebih tersembunyi dari Mat Kontan. Keinginan yang dimiliki oleh Soleman timbul dari rasa iri terhadap Mat Kontan yang memiliki segalanya. Secara primitif, sebagai seorang lelaki ia mendambakan seorang istri yang cantik dan juga sebuah keluarga. Keinginannya terkubur dalam-dalam ketika perempuan yang diinginkannya Paijah dimiliki oleh Mat Kontan. Nalurinya sebagai seorang lelaki membuatnya iri – dalam keadaan yang tidak pernah disadarinya selama bersahabat dengan Mat Kontan – akan apa yang dimilki oleh sahabatnya itu.

MAT KONTAN   :     Sungguh, Man. Saya kepingin hidup panjang umur. Kepingin melihat si Kontan kecil yang jadi milik saya satu-satunya. Semoga nanti persis seperti saya sifatnya.

SOLEMAN          :     Kalau sifatnya seperti saya bagaimana?

MAT KONTAN   :     (TERDIAM TERPERANGAH BERNAFAS BERAT). Itu tentu saja tak mungkin. Sedang namanya saja sudah persis seperti saya. Kau dengar? Kontan kecil! Si Kontan keci!!

SOLEMAN          :     Sudah pekak kuping saya mendengar lagakmu.

MAT KONTAN   :     Biar!

SOLEMAN          :     Mulai malam ini jangan ceritakan lagi tentang anakmu itu. Ceritakanlah yang lain.

MAT KONTAN   :     Kalau begitu cerita saya, saya tukar. Apa ya?

SOLEMAN PERGI KETEMPAT JAUH YANG AGAK GELAP. MEMPERMAINKAN KERIKIL DAN MELEMPARKANNYA JAUH-JAUH.

MAT KONTAN   :     (LEMBUT) Man. (SOLEMAN TAK MENYAHUT). He, Man (TAK MENYAHUT). Man. Kau iri pada saya Man? Kau iri kalau saya begitu bahagia punya istri dan anak?

SOLEMAN          :     Tidak. Tidak iri.

MAT KONTAN   :     Jadi kenapa kau benci kalau saya cerita tentang si kontan kecil?

SOLEMAN          :     Buat apa saya iri padamu. Kau juga sering membohongi diri sendiri. Ya, kau juga sering berlagak.

MAT KONTAN   :     Pasti! Pasti kau iri pada saya. Kau iri karena saya punya bini yang cantik. Seorang anak lagi yang bakal cinta pada perkutut bapaknya. Kau juga iri barangkali, sebab kalau kita main taruhan empat satu kau selalu saja kalah.

SOLEMAN KEMBALI MENDEKATI MAT KONTAN. MULANYA MAT KONTAN TAKUT TAPI SETELAH DILIHATNYA SOLEMAN TERTAWA IA HERAN. APALAGI DILIHATNYA SOLEMAN DUDUK DI BANGKUNYA DAN MAIN KERIKIL.

SOLEMAN          :     Ceritalah lebih banyak, Tan. Biar saya tuli.

MAT KONTAN   :     Jadi kalau begitu kau masih senang pada saya? Kalau begitu tebakan saya salah kali ini. Belum pernah saya menebak salah tentang dri seseorang selama ini. (DUDUK). Bagaimana saya akan menceritakan lebih lanjut tentang bini saya, ha?

SOLEMAN          :     (HANYA MENGANGGUK-ANGGUK KETIKA MAT KONTAN TERTAWA LEBAR)

MAT KONTAN   :     Bagaimana bini saya!?

SOLEMAN          :     Cuma satu jawabanya, cantik!

MAT KONTAN   :     Bagus! Lagi! Lagi!

SOLEMAN          :     Mengairahkan!

MAT KONTAN   :     Betuuuuuul, betul. Dan saya sekarang kepingin membelikan dia baju rok. (MENGELUARKAN UANG DARI KANTONG). Ini. Tadi saya menang judi.

SOLEMAN          :     Apa? Rok. Baju rok Sanghai kata orang itu?

MAT KONTAN   :     Iya! Saya lihat bini si Sadu, Si Johari dan Si Hidayat pada pakai rok model Cina sekarang. Bini Bastari sudah beranak tiga malah pakai itu.

SOLEMAN          :     Tapi binimu lebih bagus pakai kebaya sempit begitu.

MAT KONTAN   :     Kau tahu apa tentang perempuan. Buktinya kau belum punya bini sampai sekarang. Itu sudah kuno, bung.

SOLEMAN          :     Kuno dan tidak kuno bukan pada pakaian.

MAT KONTAN   :     A-ha! Persetan! Tapi kenapa kau bilang mesti berkebaya.

SOLEMAN          :     Pakai kebaya itu gulung kainnya sempit. Jadi bisa menggiurkan jejaka-jejaka.

MAT KONTAN   :     Jadi kalau begitu kau juga senang dan tergiur jika melihat bini saya memakai pakaian sempit-sempit?

SOLEMAN          :     (MENGANGGUK)

MAT KONTAN   :     (TERPERANGAH SEBENTAR, KEMUDIAN TERTAWA). Ha ! Saya senang! Saya memang senang kalau orang tergiur sampai keluar ludahnya barang sebatok kalau melihat  bini saya.

SOLEMAN          :     Jadi kalau ada orang cinta pada binimu kau juga senang. Ha!

MAT KONTAN   :     Senang! Sebab itu berarti juga orang akan cinta pada saya. Bahkan saya akan potong rambutnya pendek-pendek seperti bini si Asnin! Bajunya belang-belang kuning seperti macan tutul. Itu tandanya kita sudah jaman modern. Ah, kau tahu apa tentang arti ngomong Belanda itu!

SOLEMAN          :     Memang enak punya bini.

MAT KONTAN   :     He, orang lelaki yang ngak mau berbini itu tandanya belum lelaki. Paling-paling tak berani sama perempuan. Kau tahu kambing kebiri saya yang mati? Ia mati karena kesepian! Kau lama-lama bisa jadi seperti kambing kebiri saya itu.

SOLEMAN          :     Kalau anakmu seperti kambing nanti bagaimana?

MAT KONTAN   :     Mana bisa? Karena bapaknya Raja Perkutut, anaknya tentu Raja Kutilang setidaknya. Tak mungkin seperti kambing. Si Kontan kecil adalah anakku. Bukan anakmu!

Selain merasa iri, Soleman juga merasakan akan suatu ketidakdilan dalam perkara Paijah dan Kontan kecil. Ia ingin Mat Kontan tahu bahwa anak yang dibangga-banggakan olehnya itu adalah anak kandungnya, bukan anak Mat Kontan. Berulang kali ia mencoba untuk mengatakannya pada Mat Kontan secara tidak sengaja. Hal ini disebabkan oleh hasratnya untuk memiliki sebuah keluarga.

Sementara itu, tokoh Paijah yang merupakan istri dari Mat Kontan, memiliki penderitaan batin dalam kehidupan rumah tangga yang ia jalani bersama suaminya itu. Posisinya sebagai seorang istri yang memiliki hasrat untuk dicintai dan diperhatikan oleh suaminya tidaklah terwujud. Telah disinggung sebelumnya bahwa tokoh Mat Kontan lebih mengacuhkan burungnya daripada istri dan anaknya. Dalam segi materi, Paijah juga memiliki masalah dengan hal tersebut. Akibat sikap Mat Kontan yang tidak bertanggung jawab dalam mengurus rumah tangganya, Paijah kekurangan biaya dalam mengurus anaknya.

PAIJAH                :   Ada apa Man?

SOLEMAN          :   Jahanam betul mereka!

PAIJAH                :   (DUDUK DI BANGKUNYA. SOLEMAN MEMANDANG PAIJAH, TAPI PAIJAH MENGHINDARI PANDANGAN ITU DENGAN MELIHAT KEARAH KEGELAPAN. SUARA KERETA API DARI JAUH SEMAKIN DEKAT, LALU MELINTAS DERUNYA DIBALIK RUMAH SOLEMAN, DISINI PANDANGAN MEREKA BERTEMU).

SOLEMAN          :   (MASIH MEMANDANGI PAIJAH, MEMASANG ROKOK DAN BERKATA ACUH TAK ACUH) Kau ngak keluar malam ini Jah?

PAIJAH                :   (TERKEJUT, MEMBALAS PANDANGAN). Ngak.

SOLEMAN          :   Begini gelap malamnya.

PAIJAH                :   Ya, gelap. Hati saya juga ikut gelap.

SOLEMAN          :   Kau susah Jah!

PAIJAH                :   Tahu sendiri saja! Ya, memang saya susah, Man.

SOLEMAN          :   Kau dengar suara ubruk di sana?

PAIJAH                :   (ANGGUK). Kudengar. Kau ngak pergi?

SOLEMAN          :   Ngak! Capek! Semalam suntuk saya  dan lakimu main empat satu. (MELIHAT PAIJAH MURUNG). Kau murung benar!

PAIJAH                :   Si Kecil sakit. Kontan belum pulang. Panas saja badannya seharian ini!

SOLEMAN          :   Ngak dibawa ke dukun!.

PAIJAH                :   Dukun! Dan punya laki yang asik dengan perkutut, kepala haji, beo dan kutilang? Mana bisa jadi!

SOLEMAN          :   Tiap hari kau mengumpat begitu.

 

 2. Ego

Ego merupakan suatu bentuk hasrat yang mucul dalam menjadikan wujud id menjadi lebih luas lagi pada pemuasannya. Jika id merupakan sesuatu yang di bawa sejak lahir dan tidak memedulikan apakah ia dapat diterima di masyarakat atau tidak, maka ego di sini berperan  dalam mewujudkan hal yang diinginkan tersebut. Adakalanya ego menjadi hal yang lebih rumit dimana keinginan manusia dalam memuaskan kesenangannya sering kali mendadak dan cenderung terburu-buru. Keinginan id dikembangkan dan dibentuk dalam sebuah kenyataan oleh ego. Tokoh Mat Kontan yang ingin memiliki sesuatu yang bisa mengangkat derajatnya, ia wujudkan dengan memelihara burung-burung yang bagus dan mahal serta kepuasannya terhadap anak dan istrinya yang cantik, Paijah.

Kegemaran Mat Kontan dalam memelihara burung-burung mahal merupakan bentuk sublimasi atau pengalihan awal dari keinginannya untuk memiliki keturunan karena dia sudah mengetahui bahwa dirinya mandul. Ia mendapati ketidaknyamanan dalam mengetahui fakta tentang dirinya itu. Sehingga ia mengalihkannya dengan memelihara burung-burung tersebut dan Mat Kontan menemukan kenyamanan di dalamnya.

MAT KONTAN MASUK RUMAHNYA. DALAM RUMAH KEDENGARAN RIBUT-RIBUT DENGAN SUARA BANTAHAN PAIJAH. SOLEMAN MASUK RUMAHNYA, MENGUNCI PINTU. KETIKA KELUAR, BERPAPASAN DENGAN SI UTAI SINTING. SOLEMAN HILANG DALAM GELAP. MAT KONTAN KELUAR DENGAN TANGAN HAMPA.

MAT KONTAN   :     Man, Man. (MATANYA TERTUJU KE RUMAH SOLEMAN). Man! Beo saya hilang, Man.

UTAI                    :     (TERTAWA).

MAT KONTAN   :     Diam!

UTAI                    :     (TERTAWA LAGI)

MAT KONTAN   :     Diam, kataku diam! (IA MENGAMBIL PELEPAH KELAPA AKAN MEMUKUL ANAK ITU).

UTAI                    :     Ampuuuuuun. Ampuuuun!

MAT KONTAN   :     Kenapa kau tertawa ha?

UTAI                    :     Jadi burung beo mamang terbang?

MAT KONTAN   :     Ya.

UTAI                    :     Saya melihatnya kemarin dekat sumur.

MAT KONTAN   :     Diam! Jangan ngomong gila! Ini sungguh!

UTAI                    :     Saya juga sungguh!

MAT KONTAN   :     Apa katamu tadi? Melihat burung saya? Beo saya dekat sumur? Ia terbang kearah sumur di belakang itu?

UTAI                    :     (MENGANGGUK DAN TERTAWA PENDEK).

MAT KONTAN   :     Jangan tertawa dulu. Hayo kita cari.

UTAI                    :     Ngak bakal ketemu mang.

MAT KONTAN   :     Kau permainkan diri saya ya? Ha? (MAU MEMUKUL).

UTAI                    :     Sabar, mang. Sungguh, saya berani taruhan, ngak bakal ketemu.

MAT KONTAN   :     Kenapa coba, kenapa?

UTAI                    :     Sudah mati dia, mang.

MAT KONTAN   :     Mati? Ayo kita cari bangkainya! Biar saya ambil lampu senter (AKAN PERGI TAPI KEMUDIAN TERHENTI).

UTAI                    :     (TERTAWA). Tulang bakainyapun tak bakal ketemu. Mubajir susah-susah mencari.

MAT KONTAN   :     Apa? Apa kau bilang! Mubajir? Akan saya kubur dia.

UTAI                    :     Ya, mubajir. Ia sudah dibawa anjing Pak Rusli kemarin.

MAT KONTAN   :     (MENGANCAM DENGAN MEMEGANG LEHER BAJU UTAI). Utai jangan cari gara-gara! Gua hajar nanti lu! Betul yang ini apa bohong?

UTAI                    :     Berani sumpah Qur’an! Saya  betul.

MAT KONTAN   :     Kalau begitu. (DENGAN SEDIH), Kau betul Utai. Kalau begitu anjing si Rusli itu yang perlu dipentung. (TAPI TIBA-TIBA MELENGOS MELIHAT PAIJAH MUNCUL).

Hilangnya burung beo membuat Mat Kontan menjadi kalut dan tidak memikirkan apapun kecuali bagaimana cara menemukan mayat burung beonya itu. Egonya dalam mempertahankan sesuatu yang sudah menjadi kesayangan dan kebanggaannya itu menimbulkan kecemasan akan hilangnya burung beo tersebut. Dia bahkan tidak memedulikan anaknya yang sudah sakit; seorang anak yang sibuk ia bangga-banggakan kepada orang lain namun pada kenyataannya sering ia abaikan. Ia rela melakukan apa pun untuk menemukan mayat sekaligus orang yang telah membunuh beo kesayangannya itu. Keputusannya untuk pergi ke tukang nujum semakin menguatkan egonya dalam menemukan beonya tersebut.

Mat Kontan menginginkan Paijah dan Soleman ikut prihatin atas meninggalnya si beo miliknya itu. Keegoisannya itu menimbulkan kecurigaan terhadap istrinya yang ia pikir telah membunuh burungnya. Ia bertengkar dengan Paijah yang sedang mengkhawatirkan anaknya yang sakit. Mat Kontan juga menjadi marah pada Soleman yang dianggapnya sama sekali tidak peduli pada hal yang sedang dialami oleh sahabatnya itu.

PAIJAH MERASA LEGA LALU IA MASUK KE DALAM. IA KELUAR MENUJU RUMAH SOLEMAN

PAIJAH                :     Man! Leman (TAPI SETELAH SADAR PINTU DI KUNCI, BERLARI KE SAMPING DAN DUDUK DI BANGKU. PAIJAH KAGET AKAN CAHAYA SENTER KE MUKANYA, IA BERDIRI DAN SEDIKIT GEMBIRA IA BERJALAN MENGHAMPIRI SOLEMAN DI HALAMAN. SOLEMAN MENGAJAK PAIJAH DUDUK DI BANGKU RUMAHNYA, SEDANG IA MASIH MEMPERMAINKAN CAHAYA SENTER KE PINTU RUMAH MAT KONTAN).

SOLEMAN          :     Kenapa mukamu pucat?

PAIJAH                :     Saya cari kau tadi Man.

SOLEMAN          :     Laki-mu pergi?

PAIJAH                :     Ya, ke tempat nujum.

SOLEMAN          :     Begitu jauh, ada dua kilo setengah, kan?

PAIJAH                :     Ah, betul-betul edan dia. (BERDIRI MEMBELAKANGI). Betul-betul edan dia, tidak mengerti perasaan perempuan.

SOLEMAN          :     Kalau saya laki-mu tentu saya mengerti.

PAIJAH                :     (TIBA-TIBA MEMBALIK). Man!

SOLEMAN          :     Apa? (MENYENTER MUKA PAIJAH).

PAIJAH                :     Saya takut tadi, Man. Saya dengar ia mau bunuh orang. Dan kau dicarinya Man.

SOLEMAN          :     Ia nggak berani pada saya. Apalagi mau bunuh!

PAIJAH                :     Tapi ini betul-betul Man. Burungnya, beo itu-mati!

SOLEMAN          :     (KAGET) Lalu? (IA BERDIRI DAN MELIHAT KESAMPING RUMAHNYA, ADA KECEMASAN DI DALAM DIRINYA KALAU-KALAU MAT KONTAN DATANG. DARI JAUH SOLEMAN BERSUARA, TANGANNYA MENYENTER TUBUH PAIJAH). Lalu bagaimana?

PAIJAH                :     Burung itu mati. Kau tahu kan beo itu? Yang sering kau permainkan kalau kau kerumah saya?

SOLEMAN          :     (DATANG MENDEKATI PAIJAH) Lalu?

PAIJAH                :     Lehernya berdarah. Dan ia akan bunuh siapa saja yang memotong leher burungnya itu (DENGAN MATA MENGHARAP) Man.

SOLEMAN          :     (DENGAN PANDANGAN PENUH GAIRAH). Apa?

PAIJAH                :     Saya takut.

SOLEMAN          :     (SENYUM BERGAIRAH). Takut apa?

PAIJAH                :     Takut sama lakiku. Jika ia menuduh saya yang membunuh bagaimana?

SOLEMAN          :     Kau merasa memotong leher itu apa tidak? (DILIHATNYA PAIJAH MENGGELENG). Nah, ngak usah kuatir.

PAIJAH                :     Tapi Mat Kontan sering kalap.

SOLEMAN          :     (MEMEGANG BAHU PAIJAH DAN MENDUDUKAN DI BANGKU. IA MEMASANG ROKOK SETELAH MENENANGKAN PAIJAH). Biar bagaimanapun ia marah, ia takkan bunuh kau. Sebab kau salah satu kebanggaan dia. Jadi biar bagaimanapun salah kau, ia akan memaafkan.

PAIJAH                :     (MENANGIS TERISAK)

SOLEMAN          :     He, jangan seperti si kecil nangis. Kau malah harus mendiamkan anakmu yang nangis, kan? (TANGAN MEMBELAI RAMBUT PAIJAH).

PAIJAH                :     (LARI MELOMPAT, TAPI DIBURU DAN TANGANNYA DITARIK SOLEMAN, IA MEMBIMBING PAIJAH KE BANGKU RUMAHNYA)

SOLEMAN          :     Kau jang kuatir. Nanti aku yang membela kau.

PAIJAH                :     Tapi saya takut dengan goloknya. (MELIHAT MUKA SOLEMAN DAN BERKATA SETENGAH MENANGIS) Sungguh!

SOLEMAN          :     Ah, percayalah. Seiris bawangpun ia tak berani melukaimu!

PAIJAH                :     Jadi apa kataku bila ia menanyai saya?

SOLEMAN CUMA TERCENUNG BERFIKIR. DENGAN MEMPERMAINKAN SENTER IA PERGI KE TEMPAT YANG JAUH KELAM. SUARA UBRUK MENGERAS.

PAIJAH                :     (SETENGAH MARAH, AGAK MENJERIT). Kau diam!

SOLEMAN          :     Ya, karena itu juga suatu hal yang sulit.

PAIJAH                :     Tapi katamu tadi gampang.

SOLEMAN          :     Gampang buatku, karena saya lelaki!

PAIJAH                :     Carilah jalanya sebelum ia kembali!

SOLEMAN          :     Jalan satu-satunya, karena saya lelaki ialah: menghadapinya sebagai lelaki!

PAIJAH                :     Apa? Apa maksudmu?

SOLEMAN          :     Kalau kau disentuh saja, akan saya sentuh pula dia. Kalau kau dilukainya, akan saya lukai dia! Dan kalau kau di bunuhnya, akan saya bunuh dia (BERJALAN PELAN MENDEKATI PAIJAH)

PAIJAH                :     Jangan Man. Kita akan buyar, malu dan di usir dari sini.

SOLEMAN          :     Ya, terpaksa begitu. Sebab saya bukan penakut. Saya jantan. Dan saya punya sejarah turun-temurun.

PAIJAH                :     Sejarah turun-temurun?

SOLEMAN          :     Ya. (TERDUDUK) Ayah saya jahanamnya juga seperti saya ini. Ia jahanam, biarpun ibu saya syah untuk bininya. Tapi ini tak usah saya ceritakan Jah!

PAIJAH                :     Ceritakan, Man. Yang satu ini.

SOLEMAN          :     Saya akan mengutuk karenanya!

PAIJAH                :     Ceritakanlah, Man. Kenapa?

SOLEMAN          :     (MEMANDANG PAIJAH DENGAN ANEH) Karena perempuan ia mati. Karena perempuan ia jahanam. Tapi aku akui, ia lelaki tulen.

PAIJAH                :     (JADI GELISAH)

SOLEMAN          :     Lelaki tulen juga bisa mati karena takut. Ia takut menghadang pucuk senapan, sehingga ia mati membelakangi! Dan ketika ia lari itu ia ditembak. Ia ditembak, sebab bini orang yang dijahanaminya itu ialah bini polisi. Tapi saya sudah besar ketika itu dan dapat membayangkan membalas dendam. Kenapa ia akhirnya takut? Saya tak mengerti kenapa si pemberani bisa takut kemudian. Tapi, betapun, ia lelaki tulen, Jah. Lelaki tulen dengan darahnya yang benar-benar merah.

PAIJAH                :     (LEMBUT KARENA TAKUT). Kau juga takut Man?

SOLEMAN          :     Cukup bapak saya saja! Sayat tidak akan. Saya adalah kelanjutan dia, karena ia mewariskan saya!

PAIJAH                :     Kau akan bunuh Mat Kontan?

SOLEMAN          :     Belum pasti. Tapi saya ingat pepatah seorang Padang. Kau kenal Angku Buyung? (PAIJAH MENGANGGUK). Ialah yang menceritakan pepatah itu dan meresap pada diri saya.

PAIJAH                :     Apa katanya, Man?

SOLEMAN          :     Musuh pantang dicari, tapi jika datang pantang kau elakkan. Saya tidak akan memusuhi Mat Kontan. Tapi jika Mat Kontan akan menyerang saya, saya pantang lari, bahkan membalas.

PAIJAH                :     Jangan Man!

SOLEMAN          :     Pasti dia tak berani membacok saya!

PAIJAH                :     Kalau kau memang tak apa! Tapi saya, perempuan lemah ini, bagaimana bisa jadi?

SOLEMAN          :     Kau jangan takut. Karena lelaki bersifat melindungi. Lelaki seperti kata bapak saya: harus berdarah tajam yang mengalirkan warisannya melewati siapa saja yang rela!

PAIJAH                :     (LEMBUT) Kenapa kau tak kawin saja, Man?

SOLEMAN          :     Kawin cuma satu tanggungan, menyebabkan kita berotak dua. Ya saya tahu kemudian, bahwa ibu saya juga sejahanam ayah saya karena ia rela dijahanami lelaki lain. Saya takut kawin, karena saya kwatir jika istri saya dijahanami lelaki lain.

SOLEMAN PERGI KE RUMAHNYA, TAPI PAIJAH MENGIKUTINYA.

SOLEMAN          :     (MELARANG) Kau di situ saja menjelang ia datang. Saya di sini (MENUNJUK BANGKUNYA).

PAIJAH                :     Saya takut, Man.

SOLEMAN          :     Disana saja kata saya!

BENTAKAN SOLEMAN INI MENYEBABKAN PAIJAH TAKUT DAN KEMBALI KE BANGKUNYA

PAIJAH                :     (SETELAH MENGELUH DAN MEMANDANGI SOLEMAN YANG TERPEKUR ) Man. (SOLEMAN MUAK). Man,  kau dengar suara saya? Kau dengar suara saya? (SOLEMAN TETAP MENUNDUK). Saya menyesal sekarang, Man!

SOLEMAN          :     (KAGET DAN MENGANGKAT KEPALANYA) Menyesal?

PAIJAH                :     Ya, menyesal.

SOLEMAN          :     Ulangi!

PAIJAH                :     Menyesal, karena begini jadinya. Nanti akan terbuka juga rahasia kita. Tapi tak apa! Saya kepingin punya anak, dan anak itu telah saya dapatkan.

SOLEMAN          :     (BERDIRI) Kenapa kau menyesal? (PAIJAH HANYA MENGHAPUS AIR MATANYA). Jah! Anak itu takkan saya ambil. Jah.

SOLEMAN MENDEKATI PEREMPUAN ITU. TAPI TANGIS PAIJAH SEMAKIN MENJADI. SOLEMAN PERGI KE GELAP MALAM

SOLEMAN          :     (PERLAHAN) Saya ingat, Jah. Macam begitu tangismu dulu mengisak meminta kepada saya. Sekarang kalau menyesal. Buat apa kita menyesal. Saya juga tak pernah menyesal harus jadi jahanam kapiran begini. Ya, tidak karena dalam diri manusia, betapun kecilnya, ada jahanamnya. Cuma saja ada yang tak sempat dan tak sanggup menjalankan. Dan kita adalah orang yang kebetulan sanggup. Kenapa kita menyesal, Jah?

TIBA-TIBA IA MEMBALIKKAN BADAN SETELAH KEDUANYA BERDIAM LAMA. SOLEMAN MENDEKATI PAIJAH DAN DUDUK DISAMPINGYA

SOLEMAN          :     (SETELAH MENYENTER SEKELILING) Begitu sepi semuanya. Alangkah enaknya jika beginian terus, dunia ini ada kita berdua saja!

PAIJAH                :     ( HANYA MEMANDANGI WAJAH SOLEMAN)

SOLEMAN          :     Kau kwatir pada hari matimu bila maut tiba?

PAIJAH                :     (HANYA MENGANGGUKKAN KEPALA)

SOLEMAN          :     Mungkin saya juga, Jah. Sekarang saya lebih baik mengaku saja (MEREKA KINI SALING PANDANG). Saya juga punya takut. (DIAM) Mungkin juga Nabi. Tapi Jah, saya bunuh beo itu, karena binatang jahanam itu telah menyiksa saya!

PAIJAH                :     (TERKEJUT MENDENGAR BERITA ITU) Apa? Kau bunuh? Kau yang memotong lehernya?

SOLEMAN          :     Ya. Kau ingat Jah? Kau ingat, bahwa ketika saya mengganggumu, ketika si kecil masih berumur sebulan? Kau bilang: “Jangan ganggu saya. Man! Jangan ganggu saya!”, dan perkataan itu diulangi oleh beo itu. Dua hari yan lalu, ketika saya pegang tanganmu dan kau bilang : “Jangan ganggu saya”, beo keparat itu mengulangi lagi. (SETELAH MENELAN NAFAS). Karena itu ia saya potong lehernya. Saya potong dan saya lempar ke dekat sumurmu.

PAIJAH                :     Kita bisa celaka!

SOLEMAN          :     Akan saya hadapi semua yang menantang, Jah! (SETELAH MERASA NGERI, IA BERSUARA MENGHADAP PAIJAH DENGAN GEMETAR). Biar bagaimanapun saya akan menghadapi maut!

PAIJAH                :     (MENANGIS)

SOLEMAN          :     Kenapa jadi menangis, hah? Saya hanya akan mengabulkan apa yang kau minta dulu dan telah saya beri. Anak itu telah lahir. Kalau saya mati karena lahirnya dia, itu berarti saya akan bernasib sama dengan bapak saya. Tapi semoga cucu bapak akan meneruskannya, sebab perjuangan kakeknya belum selesai.

PAIJAH                :     Tidak, Man! Si kecil tidak akan.

SOLEMAN          :     Itu mungkin jalan menyimpang dari kemauan saya.

PAIJAH                :     Cukup kita saja yang jadi jahanam terkutuk.

SOLEMAN          :     Ya, karena sekarang kau sudah menyesal, sih.

PAIJAH                :     (SETELAH BERFIKIR SEBENTAR, TIBA-TIBA IA KAGET). Man!

SOLEMAN          :     Apa?

PAIJAH                :     Sebentar lagi tentu mereka datang. Man, saya takut Man!

SOLEMAN          :     Tenang saja. Tenang saja.

PAIJAH                :     Kalau saya dipaksa bagaimana?

SOLEMAN          :     Bilang saja saya yang membunuhnya. Saya, Soleman.

PAIJAH                :     Saya nggak mau, Man!

SOLEMAN          :     Kenapa? Kenapa he?

PAIJAH                :     (LEMBUT PELAN) Saya nggak mau. Ada orang mati karena saya, dan orang itu kau.

SOLEMAN          :     Kalau saya mati itu bukan karena kau. Itu juga karena saya ikut berjahanam!

Keinginan Paijah untuk memiliki anak dan diperhatikan oleh suaminya terpenuhi dengan kehadiran Soleman. Soleman yang juga memilki hasrat untuk memiliki sebuah keluarga, telah menjalin hubungan gelap dengan Paijah. Hasrat yang mereka pendam telah terwujudkan dengan cara yang tidak diketahui oleh Mat Kontan. Di masa lalu, Paijah telah memohon pada Soleman agar memenuhi keinginannya untuk mendapatkan keturunan. Id Soleman yang menginginkan istri dan keturunan menerima dengan senang hati tawaran yang diberikan Paijah padanya. Sehingga Ego Soleman menerima tawaran tersebut hingga semuanya berujung pada penyesalan.

 3. Superego

Superego bertugas untuk menengahi id dan ego seseorang berdasarkan pada pertimbangan moral.

MAT KONTAN   :     Apa yang akan ku lakukan.

SOLEMAN          :     Lakukanlah semaumu. Itu urusan kau!

MAT KONTAN   :     (KEPADA PAIJAH) Ya ayo pergi kalau kau betul-betul mau minggat. Kemana kau bisa minggat, coba kemana?

PAIJAH                :     (TETAP TUNDUK MENANGIS) Ke rumah pamanku.

MAT KONTAN   :     (MENGEJEK) Ke rumah pamanku. Pamanmu adalah orang yang paling miskin di dunia, tahu! Bukankah?

PAIJAH                :     Tapi saya harus kesana!

MAT KONTAN   :     Pergilah! Pergilah sana! Tapi anak itu jangan kau bawa. Anak itu adalah anak saya tahu!

PAIJAH                :     Bukan! Ia adalah anak saya yang pasti, sebab ia keluar dari rahim saya sendiri.

MAT KONTAN   :     Apa katamu, apa?

PAIJAH                :     Ya! Untuk dia ini saya pernah berkorban segalanya!

MAT KONTAN   :     (AKAN MASUK BERDIRI DI PINTU) Kalau begitu kau memang harus jadi korban (TAPI MATANYA MELIHAT PADA SOLEMAN).

PAIJAH                :     (JADI TAKUT, LALU MELIHAT PADA SOLEMAN TAPI MATA SOLEMAN TERTUJU PADA MAT KONTAN).

MAT KONTAN   :     Ia telah membinasakan hati saya! Man! Ini harus saya balas Soleman.

SOLEMAN          :     (HANYA MEMANDANGINYA)

MAT KONTAN   :     (BERTERIAK) Jawablah saya, Leman! (TAPI IA LEMAS MENANTANG MATA JANTAN ITU, SEHINGGA IA TERKULAI, TERJATUH DIDEPAN PINTU).

UTAI                    :     (TERTAWA MELIHAT ITU)

MAT KONTAN   :     (BANGKIT, MARAH) Hai! Kau mau kubunuh ya? Ya? (AKAN MENGEJAR UTAI, TAPI ANAK ITU LARI MENGHILANG).

MAT KONTAN   :     (LEMAS) Kalian semua ini jahanam.

SOLEMAN          :     Saya jangan kau ikut-ikutkan Mat!

MAT KONTAN   :     (KEPADA PAIJAH) Kau telah menyedihkan hati saya. Kau adalah bini saya jadi kau juga harus bertanggung jawab atas burung kesayangan saya karena saya juga sayang padamu.

PAIJAH                :     (SETELAH MEMANDANGI SOLEMAN) tapi kau juga laki saya, tapi sayangmu Cuma di mulut. Jadi kau bukan laki saya.

MAT KONTAN   :     Bilang sekali lagi bahwa saya ini bukan lakimu!

PAIJAH                :     (MEMBELAI KEPALA ANAKNYA YANG MENANGIS). Kau tak pernah memikirkan anak saya ini. Tapi dimana saja kau banggakan ia!

MAT KONTAN   :     (BERUBAH LALU MENDEKATI ANAKNYA) tapi ia belum begitu sakit. Seluruh anak kecil dikampung kita ini memang sedang musim sakit.

MAT KONTAN JADI LETIH, LALU MELEPASKAN NAPAS PANJANG IA BERKATA-KATA SESUATU TAPI TAK JELAS

MAT KONTAN   :     (KEPADA SOLEMAN) Man! Burung itu baru beberapa waktu yang lalu bisa ngomong dengan jelas. Kau tahu apa yang dibilangnya ketika masih hidup? Ketika saya dekati, ia bilang,” Jangan cubit saya! Jangan cubit saya!” Kenapa burung bisa berkata seperti manusia?

SOLEMAN          :     (MELIHAT SI ANAK TAMBAH MENANGIS,. LALU MENDEKAT DAN MEMEGANG KEPALA ANAK ITU) Mari saya gendong anak ini Jah!

MAT KONTAN   :     (KAGET BERDIRI) Jangan sentuh anak itu! Itu anak saya.

SOLEMAN          :     (TIDAK JADI MENGAMBIL). Baiklah! Itu sudah kepunyaan kau sekarang. Tapi saya ingin bertanggung jawab atas nyawanya.

MAT KONTAN   :     Apa kau punya hak atas nyawanya?

SOLEMAN          :     Biar bagaimanapun, ia adalah anak manusia bukan anak burung.

MAT KONTAN   :     Diam kau babi! Diam kau sebelum saya hantam!

SOLEMAN          :     Sekarang, apa yang akan kau lakukan sebagai lelaki, sebagai bapak, sebagai Mat Kontan yang selalu membayar kontan?

MAT KONTAN   :     Cari dulu siapa pembunuh burung saya. Ia juga harus dihajar dengan kepal tinju ini (MENGACUNGKAN TINJUNYA).

SOLEMAN          :     Kau tak kan berani. (MELIHAT PAIJAH, PAIJAH TAKUT).

MAT KONTAN   :     Apa? Apa kau bilang barusan?

SOLEMAN          :     Kau tak kan berani sebab kau pengecut paling besar di dunia Tuhan ini!

MAT KONTAN   :     Kalau saja ahli nujum itu belum mati (HERAN IA MELIHAT SOLEMAN YANG PERGI BEGITU SAJA KE RUMAHNYA). He, dengar! Kalau saja saya tahu, saya akan hajar dia! (MELIHAT PADA PAIJAH DAN MENGANCAM). Kau juga! Malam ini juga harus kau tunjukkan padaku siapa pembunuhnya!

PAIJAH                :     (MELIHAT ANAKNYA YANG MENANGIS) Saya tak mau!

PAIJAH PERGI MASUK RUMAH, MAT KONTAN MENYUSUL. SOLEMAN MASUK DALAM RUMAHNYA BURU-BURU, LALU KELUAR KEMBALI MENYARUNGKAN GOLOKNYA DI BALIK SARUNGNYA, AGAR TAK TAMPAK. SOLEMAN MENDENGAR DI BALIK PINTU RUMAH MAT KONTAN, PERTENGKARAN YANG TERJADI DI DALAM. SOLEMAN JADI HERAN, MELIHAT PAIJAH YANG TIBA-TIBA MELONCAT KELUAR DAN MENDEKAP PADANYA

MAT KONTAN   :     (MENGANCAM) Lepaskan dekapan itu!

PAIJAH                :     (TERUS MENDEKAP). Man, tolong lindungi saya Man!

MAT KONTAN   :     Ayo lepaskan sebelum kuambil golok!

PAIJAH                :     (MELIHAT SOLEMAN YANG DIAM SAJA, JADI GERAM) Man, kau diam saja!

SOLEMAN          :     (HANYA MENANTANG MATA MAT KONTAN DENGAN DADA YANG SESAK).

MAT KONTAN   :     Kau juga harus melepaskan dia! He, Soleman (JADI GERAM MELIHAT SOLEMAN) Lepaskan dia! Dia bukan binimu!

PAIJAH                :     (MENGGUNCANG SOLEMAN) Jawab. Jawab Man!

KETIKA SOLEMAN DIAM SAJA, PAIJAH MELUDAHI MUKA LELAKI ITU. LALU IA MELEPASKAN DEKAPANNYA DENGAN SANGAT BENCI DAN DIA BERLARI KE BANGKU RUMAH SOLEMAN

MAT KONTAN   :     (PADA PAIJAH) Paijah! Jangan kau lari kesana. Jangan kau lari kesana! Jangan kau berteduh di bawah atap rumah lelaki yang bukan lakimu.

PAIJAH                :     (BERGAYUT PADA SANDARAN BANGKU) Leman pengecut! Jawablah si Kontan itu Man!

SOLEMAN TETAP BUNGKAM, MAT KONTAN MENDEKATINYA BIARPUN HATINYA TAKUT SEKALI

MAT KONTAN   :     Jadi kau tahu ya, siap yang membunuh beo saya ha?

SOLEMAN          :     (MEMANDANG KE WAJH PAIJAH)

PAIJAH                :     Jawablah Man, sebelum kau dicincangnya!

SOLEMAN          :     (MEMANDANG MAT KONTAN SEHINGGA MAT KONTAN MUNDUR. KETIGANYA SALING PANDANG DENGAN LIAR. KETIGANYA SALING BENCI).

MAT KONTAN   :     (AKAN MASUK KERUMAH DAN MENGANCAM KEDUANYA) Kalau begitu akan saya ambil golok. Akan saya bunuh kalian keduanya bila tak ada yang mengaku!

PAIJAH                :     Mat Kontan lakiku (SETELAH DILIHAT MAT KONTAN, IA MEMANDANG SOLEMAN MENGEJEK) Saya bunuh burungmu itu.        

MAT KONTAN   :     (MELANGKAH) Kenapa burung saya kau bunuh?

PAIJAH                :     Karena ia selalu mengejek saya!

MAT KONTAN   :     (HERAN BERJALAN MENDEKATI) Dia mengejek kau? Ha?

PAIJAH                :     Dia mengejek saya dengan perkataan itu, jangan cubit saya! Jangan cubit saya! (SAMBIL MELIHAT SOLEMAN).

MAT KONTAN   :     (MAKIN MENDEKATI PAIJAH).

PAIJAH                :     Hancurkan diri saya! Coba! (LALU MENANGKUP BANGKU).

SOLEMAN HANYA MEMANDANGI SAJA, SEDIKITPUN IA TAK MELANGKAH. PAIJAH BANGKIT DAN MEMANDANGNYA GARANG

PAIJAH                :     Hai lelaki pengecut! Bukankah kau bilang, berjanji akan melindungi saya ha? Kau diam saja sekarang kayak tunggul!

MAT KONTAN   :     (HERAN MEMANDANG SOLEMAN)

SOLEMAN          :     (BARU KEMUDIAN BERJALAN SELANGKAH) Saya hanya kepingin melihat melihat kau takut. Juga kepingin melihat Mat Kontan takut. Dan juga kepingin merasakan kalau saya takut, seperti yang bapak saya alami!

PAIJAH                :     Kau takut ya?

SOLEMAN          :     Saya kepingin melihat Mat Kontan menyentuhmu seujung kumis nyamuk. Melukaimu barang seiris bawang. Tapi rupanya ia tak berani.

PAIJAH                :     Jangan kau bikin gara-gara memanasi dia, Soleman keparat. Akuilah dulu perbuatan kau!

MAT KONTAN   :     (PADA PAIJAH) Jadi Soleman tahu siapa yang bunuh burungku?

PAIJAH                :     Ya, ia yang tahu!

MAT KONTAN   :     Tapi kenapa kau yang mengaku ha? (GIGINYA GEMERETAK).

PAIJAH                :     Karena saya kasihan melihat dia begitu pengecut tadi.

MENDENGAR INI SOLEMAN JADI GERAM, LALU BERTERIAK

SOLEMAN          :     Sayalah yang membunuh burung beo itu! (BERJALAN LAMBAT MENDEKATI MAT KONTAN)

MAT KONTAN   :     (MEMANDANGI AGAK TAKUT)

SOLEMAN          :     Sayalah yang melakukannya!

MAT KONTAN   :     (BERPUTAR MENGAMBIL TEMPAT DEKAT RUMAHNYA) Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?

SOLEMAN          :     Ya, saya iri!

MAT KONTAN   :     Memang benar tebakan saya tadi.

SOLEMAN          :     Ya! Saya iri pada semua  yang kau punyai. Pada uangmu, pada binimu, pada anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!

MAT KONTAN   :     Memang kau jahanam!

SOLEMAN          :     Memang saya jahanam. Tapi kau juga jahanam (DAN MEMBALIKAN BADAN KEARAH PAIJAH) Kau juga jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (LAMBAT) dan anak yang menangis itu juga jahanam.

MAT KONTAN   :     Kenapa kau hina anak saya ha?

SOLEMAN          :     Ia bukan anakmu!

MAT KONTAN   :     Apa katamu?

PAIJAH                :     Soleman!

SOLEMAN          :     Sekarang kau jangan banyak omong. Jah, malam ini malam yang menentukan kita semuanya. Ya, si Kontan kecil itu memang bukan anakmu, Mat!

MAT KONTAN   :     Anak siapa coba?

SOLEMAN BERJALAN LAMBAT MENUJU KETEMPAT KELAM, SUARANYA SEPAROH MENGAMBANG

SOLEMAN          :     Saya percaya, kau sendiri belum yakin selama ini bahwa ia itu anakmu. Kau sering menebarkan berita setelah anakmu lahir kemana saja untuk menutupi hal itu. Hal, bahwa sebenarnya kau bukan lelaki. (MEMBALIK BADAN DENGAN CEPAT). Dan itu menyakitkan hati saya, sebab kesombongan yang satu ini bukan kau punya dengan syah. Dan saya juga tidak bisa mempunyainya dengan syah. Sebab surat nikah ada di tangan kau, Kontan.

SOLEMAN LALU DUDUK DI BANGKU MAT KONTAN

SOLEMAN          :     Bangku ini juga jahanam! Karena Paijah sering duduk di sini terkadang sampai malam. Dan saya duduk di sana (MENUNJUK BANGKUNYA) Kami saling memandang ( KEPADA KONTAN). Kenapa kau sering tak di rumah, Tan? Itu juga perbuatan yang jahanam.

MAT KONTAN   :     Sekarang jawab saja dengan pendek, jangan bikin saya botak. Anak itu anak siapa?

SOLEMAN          :     (BERDIRI)

PAIJAH                :     (SETENGAH MENANGIS) Jangan kau bilang Man!

SOLEMAN          :     (BERJALAN MENDEKATI KONTAN DENGAN PANDANGAN YANG MENCEKAM PADA PAIJAH) Akan saya jawab. Kau rela? (PENDEK LAMBAT) Anak itu anak saya dari darah daging saya!

MAT KONTAN   :     Biadab kalian!

IA BERLARI KE PINTU RUMAHNYA, TAPI TERHENTI MENDENGAR ANAK MENANGIS

PAIJAH                :     Anakku mau dibacoknya! (MELOMPAT, TAPI TERTELUNGKUP)

SOLEMAN          :     (MEMBIARKAN SEMUA INI BERLALU) Kau berteriak minta tolong, di pantai pasir Boblos. Kau ingat itu, Tan? (SUARANYA LEMBUT) Kau minta satu ujung napas agar kau hidup panjang.

MAT KONTAN MENDENGAR HAL INI JADI KUYU, MUKANYA BERPELUH. SEPERTI TERSENTAK DARI MIMPI, IA LEMPAR GOLOKNYA DAN MELOMPAT MEMELUK SOLEMAN

MAT KONTAN   :     Man! Sudah kubilang, jangan ceritakan hal itu. Saya kepingin panjang umur.

PAIJAH                :     (BANGKIT DARI PINGSANYA, TERHUYUNG MENUJU BANGKU)

SOLEMAN          :     Tak jadi kau bunuh saya?

MAT KONTAN   :     Tidak tahu. O, Man! Kalau tidak tentu saya sudah mati sekarang ini dalam tanah. Saya kelelep di pasir dan tak dapat melihat dunia merdeka ini.

SOLEMAN          :     Tapi saya tak rela selesai seperti ini.

MAT KONTAN   :     (BERKATA SESUATU TAK JELAS)

IA MENUJU KE PINTU, LALU DI PINTU IA TERHENTI. SUARANYA MENGAMBANG UNTUK SOLEMAN DAN PAIJAH

MAT KONTAN   :     (MENGAMBIL GOLOK, MENYARUNGKANNYA). Kalian tak usah saya bunuh. Karena banyak lagi perempuan di dunia ini (SETENGAH MENANGIS) Leman! Ambillah paijah biniku itu karena kau telah merampasnya. (KEPADA PAIJAH) Paijah! Ambillah soleman karena sahabat saya itu telah merampasmu!

MAT KONTAN AKAN MASUK KE RUMAH, TAPI TAK JADI

MAT KONTAN   :     Tak usahlah, tak usahlah pamit pada si kecil. Karena dia bukan darah daging, bukan anak saya. (BERTERIAK SEDIH). Ambillah oleh kalian! Telah kalian rampas seluruh kepunyaan saya!

SEPERTI ANAK KECIL MAT KONTA MENGHAPUS AIR MATANYA DENGAN SARUNGNYA. INGUSNYA KELUAR DAN IA MEMBERSIHKAN INGUS ITU DENGAN BERKATA SESUATU YANG TAK JELAS. JALANNYA BONGKOK, BERHENTI IA DI TEMPAT KELAM.

MAT KONTAN   :     Saya akan pulang ke kampung kelahiran saya. Malam ini juga. (HILANGLAH MAT KONTAN)

UTAI YANG MUNCUL DISUDUT RUMAH MAT KONTAN HANYA TERDUDUK MEMPERMAINKAN PASIR. IA TAK DILIHAT OLEH PAIJAH MAUPUN SOLEMAN

SOLEMAN          :     (MEMBANTING GOLOKNYA)

PAIJAH                :     Man.

SOLEMAN          :     (TAK MENJAWAB DAN DUDUK DI BANGKU RUMAHNYA)

PAIJAH                :     Man…………..

SOLEMAN          :     (SEPERTI MENYESAL, TAPI TIBA-TIBA TERSENTAK SEHINGGA PAIJAH KAGET). Barangkali ia bunuh diri, Jah! Saya akan susul…………..

PAIJAH                :     Jangan tinggalkan saya! (MEMELUK SOLEMAN) Jangan tinggalkan saya Man!

UTAI TIBA-TIBA BERDIRI DAN TERTAWA PENDEK. KEDUA MEREKA TERKEJUT SEHINGGA DEKAPAN ITU LEPAS. UTAI SEGERA LARI KE ARAH MAT KONTAN PERGI

PAIJAH                :     (MENAHAN SOLEMAN) Jangan Man!

SOLEMAN          :     Ia sahabat saya, Jah. Saya tak mau biarkan dia mati begituan. Saya pulangkan dia pada kau, karena kau bukan hak saya yang syah!

PAIJAH                :     Leman! Jangan kau tinggalkan saya dan anak kita!

SOLEMAN          :     (MENDENGAR SUARA TANGIS BAYI). Jah…….

PAIJAH                :     Anak itu sebaiknya kita bawa ke dukun.

SOLEMAN          :     Bawa ke Pak Mangun.

MEREKA MASUK KEDALAM PINTU RUMAH PAIJAH, BAYI ITU MASIH MENANGIS

SOLEMAN MUNCUL KEMBALI DAN KELUAR, TERDENGAN SUARA TAWA DARI KEGELAPAN. MAT KONTAN DENGAN GOLOKNYA BERSAMA UTAI. KETIKA MAKIN DEKAT SOLEMAN MELIHATNYA DENGAN GELISAH DAN GUGUP MEMANDANG GOLOK YANG TADI DIBANTINGNYA KE TANAH

MAT KONTAN   :     (TERTAWA) Ha! Kau kira saya mau begitu saja meniyerahkan bini saya buat kamu? Hei, ajudan kecil bagaimana?

UTAI                    :     Terus! Pukul saja!

MAT KONTAN   :     Kau kira siapa saya? Kau kira bisa ke Jawa begini malam? Kau kira kapan saya pulang ibu bapak saya tidak akan membawa anak bini? Kau kira saya juga tak kepingin senang dengan keluarga?

UTAI                    :     Terus! Bacok saja!

MAT KONTAN   :     Nanti dulu Tai! Biar kita lihat dia ketakutan.

UTAI                    :     Jangan biarkan dia lari.

MAT KONTAN   :     Hadang sana (KEPADA SOLEMAN) saya ke pantai spesial mengasah golok Cibatu ini buat diasah di kepalamu yang penuh najis itu! Dan saya melaporkan bahwa kau berpelukan dengan Paijah, huh!

SOLEMAN MELIHAT UTAI MENGAMBIL GOLOK YANG DI TANAH. PAIJAH MUNCUL DI PINTU TAPI MASUK KEMBALI. SEMUA MENDENGAR SUARA KERETA APAI MENDERU MAKIN MENDEKAT. SOLEMAN MENCARI KELUAR. TIBA-TIBA IA SUDAH MELOMPAT SAJA KESAMPING UATAI DAN MENGHILANG. UTAI MEMBURU DISUSUL OLE MAT KONTAN, KETIGANYA TELAH TERTELAN GELAM MALAM.

MAT KONTAN   :     (NAFASNYA MASIH TERENGAH) Jah!

PAIJAH                :     (HERAN) Tan! Jangan bunuh kami, Tan!

MAT KONTAN   :     (MENGGELENG) Bodoh saya kalau membunuh kau dan anak ini (DIDEKAPNYA BININYA) Jah! (IA MENANGIS) Kau tahu Jah? Kau tahu si Utai patah lehernya?

PAIJAH                :     Ha?

MAT KONTAN   :     Ia ditendang soleman jahanam itu ketika Utai menangkapnya. Tapi Soleman selamat sampai ke gerbong kereta api. Jahanam itu selamat. Saya sempat memukul kepalanya dua kali, Jah. Ia selamat, Ia lolos, Jah. Tapi pikirannya akan selalu diburu!

BAYI MENANGIS

MAT KONTAN   :     Bawa ke dalam nanti masuk angin lagi!

PAIJAH                :     (HERAN MEMANDANGI MAT KONTAN)

MAT KONTAN   :     Kenapa kau lihat saya seperti itu? Apa saya ini macan?

PAIJAH                :     Si Utai, Tan.

MAT KONTAN   :     Apa boleh buat dia mati. Kalau hidup tentu ia akan menyebarkan berita kerusuhan kita ini. Kita mesti rahasiakan ini, Jah!

Sikap Mat Kontan yang gelisah karena kehilangan burungnya itu menyebabkan konflik dan mengungkapkan rahasia Soleman dan Paijah. Dengan terjadinya kondlik tersebut, Mat Kontan lebih menggunakan instingnya untuk segera menemukan pembunuh  beonya tersebut. Akan tetapi, pengakuan Paijah dan Soleman membuatnya semakin kesal. Persaan dikhianati mulai ia rasakan ketika ia mengetahui bahwa anak itu bukanlah anaknya dan Soleman lah yang membunuh burungnya tersebut. Keinginannya untuk menghabisi si pembunuh ia pikirkan kembali; bagaimanapun juga Soleman adalah sahabatnya. Namun superego yang dimiliki oleh Mat Kontan lemah. Ia kembali dengan goloknya untuk membunuh Soleman dan sayangnya ia tidak berhasil.

Pada dasarnya, Soleman merupakan seorang pengecut. Hal ini terlihat ketika Paijah datang padanya untuk menuntut bantuan agar Soleman menolongnya dari kemarahan Mat Kontan, ia tidak menolong sesuai janjinya pada Paijah sebelumnya. Soleman memilih untuk mengulur-ngulur waktu sebelum akhirnya ia mengakui perbuatannya pada Mat Kontan. Soleman merasa bersalah pada sahabatnya itu. Namun, ego dan superegonya juga lemah. Ia menginginkan pengakuan terhadap anaknya itu. Hal tersebut selalu disinggungnya dari awal hingga ia pada akhirnya menceritakan semuanya pada Mat Kontan. Sebagai suatu bentuk pertahanan diri, ia menyalahkan Mat Kontan yang sering bepergian dan jarang memerhatikan istri dan anaknya. Ia menutupi ketakutannya dengan meyakini bahwa Mat Kontan tidak akan membunuhnya. Tetapi, hal tersebut tidaklah bertahan lama ketika Mat Kontan kembali dan ia segera lari menghindari sahabatnya tersebut.

Sementara itu, Paijah yang menginginkan seorang anak harus meminta kepada lelaki lain agar keinginannya tersebut terpenuhi. Dengan sikap Mat Kontan yang acuh tak acuh terhadap istrinya tersebut menyebabkan Paijah memiliki hubungan dengan lelaki lain. Superegonya mengetahui bahwa tindakan yang selam ini ia lakukan adalah salah. Sebagaimana Soleman, ia juga menyalahkan Mat Kontan yang sering bepergian dan kurang memerhatikannya. Kemarahannya pada Soleman yang bertindak sebagai pengecut menyebabkan adanya agresi langsung yang dilakukan oleh Paijah agar Soleman meresponnya.

Superego ketiga tokoh tersebut sangat lemah. Tindakan-tindakan yang mereka lakukan tidak sesuai dengan moral-moral kehidupan.

E.     Simpulan

Setelah mengkaji dengan pendekatan psikoanalisis, naskah Malam Jahanam erat kaitanya dengan kejiawaan manusia. Naskah ini memberikan pelajaran moral terhadap pembaca melalui serangkaian konflik kejiwaan yang terjadi antar tokoh bahwa segala tindakan tidak terpuji dan kebohongan memiliki konsekuensi akhir yang tidak bisa dihindari lagi. Naskah ini memiliki fungsi penyadaran dan fungsi dedukatif yang di dalamnya berisi tentang perbuatan-perbuatan buruk yang tidak patut dicontoh karena akan berakhir buruk pula.

DAFTAR PUSTAKA

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Disusun untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah Kajian Drama dari dosen pengampu Rudi Adi NUgroho, M.Pd

[2] Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s