Relevance Theory

Relevance Theory
By Siti Sopiah

A.Latar Belakang
Teori Relevansi ini muncul sebagai sebuah bentuk ketidaksetujuan Sperber dan Wilson terhadap Prinsip Kerjasama milik Grice; dimana Grice mengungkapkan bahwa agar suatu komunikasi bisa berjalan dengan baik maka penutur dan mitra tutur harus mematuhi empat maksim, yaitu maksim kualitas, maksim kuantitas, maksim hubungan/relevansi, dan maksim cara. Pernyataan ini ditentang oleh Sperber dan Wilson yang berpendapat bahwa hal yang paling terpenting dalam berkomunikasi adalah maksim hubungan/relevansi yang kemudian maksim ini dikembangkan secara optimal oleh kedua tokoh ini hingga membentuk sebuah prinsip yang esensial/Prinsip Relevansi. Sperber dan Wilson menganggap bahwa ketika bertutur penutur sudah mencoba untuk serelevan mungkin, dan kerelevanan ini ditunjang oleh dua hal; konteks dan kognisi.
Perhatikan percakapan berikut:
A : “Bang, main yuk!”
B : “Bentar lagi jam lima euy.”
A : “Oh, ya udah besok aja atuh kalau gitu mah.”
Jika kita melihat pada percakapan tersebut dan mengkaitkannya dengan PK Grice maka percakapan tersebut dianggap tidak relevan karena untuk menolak atau menerima ajakan ‘A’ , ‘B’ hanya perlu menjawabnya dengan kata ‘tidak bisa’ atau ‘Yuk!’ Akan tetapi ‘B’ lebih memilih untuk menjawab ‘Bentar lagi jam lima euy!’ yang secara tidak langsung sudah menolak ajakan ‘A’. Dalam konteks ini, ‘A’ sudah mempunyai pengetahuan terhadap situasi B dan mampu memahami maksud dari jawaban ‘B’ bahwa B tidak bisa pergi main karena sudah sore dan harus cepat pulang atau karena B sudah mempunyai acara lain yang lebih penting, sehingga A tidak perlu memproses jawaban B lebih jauh lagi karena B sudah berhasil dalam menyampaikan makna utamanya tersebut.
Oleh karena itu, percakapan di atas sudah bisa dikatakan relevan karena baik penutur maupun mitra tutur sudah memahami konteks yang melingkupi tuturan tersebut dan makna yang dimaksud pun mudah untuk ditangkap.

B. Explicature, Higher Level Explicature, dan Implicature
Perhatikan contoh berikut:
I : “Hayu pulang!”
R : “Ih, Aku ga bawa motor.”

Interpretasi dari suatu ujaran dapat berbentuk ekslpikatur, higher lever eksplikatur, dan implikatur. Berdasarkan contoh diatas, ketika R mengatakan ‘Ih, aku ga bawa motor’ dapat diinterpretasikan sebagai eksplikatur ketika I menanggapinya dengan anggapan bahwa R hari ini tidak membawa motor dan harus pulang naik kendaraan umum. Sedangkan apabila I menanggapi tuturan R dengan anggapan bahwa I harus membantu dalam mencarikan R tumpangan, atau R harus segera pulang karena harus naik kendaraan umum, atau I harus mengantar R pulang, maka tuturan R telah diinterpretasikan sebagai higher lever explicature dimana I merasa dilibatkan dalam konteks tuturan R. Sementara itu, dalam tuturannya, R telah menimbulkan makna implikatur karena secara jelas tuturan R mempunyai bentuk logika dari benar-benar berbeda dari tuturan aslinya dimana dalam konteks ini R menyatakan bahwa ia meminta I untuk mengantarnya pulang, atau R harus pulang lebih dulu karena dia tidak membawa kendaraan pribadi.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa eksplikatur adalah pengembangan makna terhadap suatu bentuk tuturan dari makna aslinya; higher level explicature adalah pengembangan makna terhadap suatu tuturan yang melibatkan hubungan yang proposional antara penutur dan mitra tutur; dan implikatur adalah makna tersirat yang terdapat dalam suatu tuturan yang memiliki bentuk lain dari tuturan aslinya.

C.Indeterminacy (Penyederhanaan)
Menurut Sperber dan Wilson, ketika bahasa digunakan untuk sebuah komunikasi maka akan muncul konstituen atau elemen lainnya yang memang dibutuhkan atau sengaja diletakkan atau (dipersepsikan) agar adanya saling pengertian diantara pembicara dan pendengar. (Grundy, 2008:137)
Dalam berkomunikasi sehari-hari, bentuk penyederhanaan ini sangat sering digunakan guna mengefektifkan tuturan. Contohnya, ketika kita pergi ke pasar lalu berhenti di depan penjual sayuran (misalnya kangkung), maka bentuk komunikasi itu akan dimulai dengan ujaran:
‘Berapa?’
Pada situasi ini, ketika saya bertanya pada penjual sayuran ‘Berapa?’ konstituen yang muncul adalah ‘Kangkung ini berapa satu ikatnya?’ dalam pikiran si penjual sehingga saya tidak perlu lagi memproses ujaran saya kedalam bentuk ujara yang lebih merinci lagi karena penjual sudah memahami dan mampu menangkap maksud saya.

D.Procedural and Conceptual Encoding
‘Bangbang adalah orang yang sangat pendek.’
Conceptual encoding memandang keutuhan kalimat (secara gramtikal) dalam kalimat tersebut. Sementara itu, procedural encoding memandang makna yang terdapat dalam ujaran tersebut dengan berfokus pada kata ‘sangat’ (adverbia) yang member penekanan makna terhadap ujaran tersebut. Akan menimbulkan suatu persepsi yang berbeda apabila saya hanya mengatakan ‘Bangbang adalah orang yang pendek.’

E.Prinsip Relevansi
1.Bahwa setiap ujaran memiliki relevansinya masing-masing.
2.Penutur harus memperhatikan situasi dan background knowledge guna menjalin suatu komunikasi yang relevan dengan mitra tutur.
3.Suatu struktur kebahasaan memiliki pengaruh terhadap suatu ujaran sehingga dapat menimbulkan persepsi yang berbeda.
4.Sumber kontekstual memungkinkan mitra tutur untuk menyimpulkan pemahaman yang relevan.
5.Penafsiran yang paling dapat dicapai oleh mitra tutur merupakan penafsiran yang paling relevan.
6.Konteks pembicaraan diambil dari informasi yang ada dalam memori penutur dan mitra tutur.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s