Ketika Merasa Dikhianati

image

Credit to pinterest

“Proses tidak akan pernah mengkhianati hasil..”
Sebuah ungkapan dari salah seorang penulis yang sedang terkenal saat ini – dari sebuah buku yang aku peroleh dari salah seorang sahabatku ketika aku berulang tahun dulu.

Hingga pukul enam tadi pagi aku masih setuju dan memercayai ungkapan itu. Aku masih meyakini bahwa hasil akhir akan sepadan dengan proses (perjuangan) yang dilakukan. Lebih jauhnya, kalau perjuanganmu tidak sungguh-sungguh maka hasilnya pun tidak maksimal; tetapi kalau perjuanganmu dilakukan dengan sungguh-sungguh maka hasilnya pun akan memuaskan. Apa yang dicapai selalu sepadan dengan apa yang dikorbankan. Bukankah begitu?

Akan tetapi, aku merasa dikhianati sekarang. Aku merasa ditampar dan dicampakkan begitu saja oleh hasil akhir yang belum aku raih sama sekali.

Perjuangan dan pengorbanan besar yang dilakukan olehku tiba-tiba menjadi suatu kesia-siaan untuk sebuah hasil akhir. Hanya ketika aku akan mulai menggapai hasil akhir dari perjuanganku, aku dihentikan dengan kasar oleh secarik kertas penting yang robek. Di situ aku merasa terpeleset dan kaku – sulit bergerak untuk bangkit lagi dan memperbaiki kertas itu. Jika memang masih bisa diperbaiki.

Bagaimana mungkin aku digagalkan oleh – secara tidak langsung – diriku sendiri? Inikah yang disebut dengan “bukan takdirmu” itu? Apa aku tidak ditakdirkan untuk hal itu? Apa aku masih terlalu kurang pantas untuk itu?

Tetapi busuk jiwa ini jika aku harus berhenti melangkah begitu saja dan menyerah. Tuhan tidak meminta manusia untuk menyerah dan berhenti berusaha begitu saja, kan? Tuhan akan memberikan ujian yang dapat manusianya selesaikan sesuai dengan kapasitas kemampuannya, bukan?

Jadi pasti ada cara lain.
Dan hasil akhir pun tidak selalu dekat dan jelas. Hasil akhir pun muncul dalam bentuk yang beragam.

Hasil akhir bukan mengkhianati. Hasil akhir hanya belum muncul. Dan kecerobohan dan tamparan perasaan gagal itu hanyalah bagian dari pengorbanan dan ujian untuk segalanya. Mau terus mengejar, kan?

Aku mau.

Maka, mau sampai kapan kita meratapi kegagalan dan penyesalan kita?

Jangan biarkan orang lain menyelamu lagi. Kamu adalah diri kamu yang mampu berbuat banyak hal.

Mari tetap berjuang dan tetap semangat!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s