Pendidikan Masa Kini

Pernah membayangkan dunia ini tanpa pendidikan? Pernah terbayang bagaimana rasanya jika semua bentuk komunikasi tulisan dan lisan tidak pernah ada dalam kehidupan manusia; ragam bahasa yang tidak lagi nyata? Sulit, kan?

Pendidikan disebut-sebut sebagai akar dari kehidupan. Tidak akan ada yang namanya sopan santun jika tidak ada pendidikan. Tidak akan ada yang namanya baca tulis kalau tidak ada pendidikan. Tidak akan ada yang namanya berpengetahuan kalau tidak ada pendidikan. Oleh sebab itu, pendidikan menjadi hal yang paling sering dikejar dan diusahakan untuk dimiliki semua orang.

Benarkah sudah diinginkan oleh semua orang?

Melihat kenyataan yang ada di lingkungan sekitar, pendidikan menjadi hal yang secara tidak langsung direndahkan dan disepelekan. Apa gunanya pendidikan jikalau nantinya kita sudah dijamin mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang serba berkecukupan? Ironisnya, konsep pemikiran yang seperti ini terjadi di banyak negara. Bahkan di negara yang notabene memiliki sistem pendidikan yang bagus dan lulusannya dikenal seluruh dunia, toh, pendidikan bukanlah hal yang selalu dielu-elukan.

Kenyataan yang ada di depan mata kita saat ini adalah pendidikan menjadi barang dagangan paling menguntungkan. Tidak heran jika biaya pendidikan saat ini costs you an arm and a leg. Mahal sekali!

Zaman sekarang, pendidikan tidak lagi mudah diperoleh. Manusia pun tidak akan mempermudah manusia lainnya untuk mendapatkan pendidikan karena manusia juga memerluakan materi untuk bisa hidup. Toh manusia berpendidikan itu tidak memperoleh pendidikan dengan gratis. Nah, ilmu yang akan ditularkannya juga tidak pernah gratis. Sehingga, pendidikan kini menjadi seperti an eye for an eye. Tapi mungkin hal itu tidak akan menjadi hal yang amat ironis. Ada hal lain yang lebih ironis, bahkan sangat ironis.

Di beberapa negara berkembang dan negara maju orang bisa benar-benar berpendidikan jika mereka mampu mebiayainya atau jika ada sponsor yang mau membantunya. Dan hal ini terjadi pada mereka yang begitu ambisius untuk mendapatkan pendidikan dan menghargai pendidikan. Karena pendidikan tidak gratis, jadi mereka setidaknya takut untuk kehilangan pendidikan dan terdorong untuk belajar lebih giat.

Namun, di beberapa negara kaya yang memberikan pendidkan secara cuma-cuma kepada warga negaranya, justru jati diri pendidikan itu dilecehkan dan dicemooh begitu saja. Negara-negara yang begitu dicemburui oleh negara lain karena memiliki universitas-universitas bergengsi yang ijazahnya bisa dijadikan kunci emas membuka dunia, malah direndahkan oleh mereka yang mendapatkannya secara gratis.

Ini yang membuat saya mengerutkan kening dalam-dalam. Sedih rasanya melihat kebanyakan dari mereka yang sejak lahir diberi jaminan pendidikan sampai universitas malah menyia-nyiakannya begitu saja. Motivasi belajar saja tidak punya, apalagi mempunyai alasan untuk mengemban pendidikan. Mereka tidak takut kehilangan pendidikan. Mereka juga tidak peduli dengan para pendidik yang mendedikasikan waktu mereka untuk mendidik. Mereka tahu dan paham hak-hak mereka dan mereka mengerti bahwa sekalipun mereka diberhentikan dari sekolah, uang masih bisa didapat di tangan.

Jika melihat anak-anak yang ada di negara-negara yang kerap berkonflik dan negara-negara yang berkembang untuk maju, sedih rasanya bahwa mereka kesulitan pergi sekolah, dan mungkin kebanyakan dari mereka tidak akan pernah mendapatkan kesempatan duduk di sekolah. Sementara dana pendidikan yang diberikan kepada anak-anak di tempat lain malah dihambur-hamburkan.

Jadi, mana yang lebih baik: memperoleh pendidikan dengan kerja keras atau memperolehnya secara cuma-cuma?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s