“Increase Teacher Professional Autonomy”

I cannot promise below anything as exciting as battling a potential new partner’s seven evil exes, but I do want to wade into an important but too often overlooked aspect of how we assign power and blame to teacher impact of student achievement. In two recent posts, I have confronted teacher blaming as well as […]

via Pre-Service Teacher Education vs. the World — radical eyes for equity

Sekilas tentang Pengajaran BIPA di Luar Negeri

Bahasa Indonesia. Budaya Indonesia.

Sudah sepatutnya masyarakat Indonesia sendiri mengetahui dan sadar akan pentingnya melestarikan Bahasa Indonesia, Bahasa Nasional Indonesia. Bahasa yang menjadi alat pemersatu bangsa Indonesia ini telah banyak dipelajari di luar negeri sebagai subjek di beberapa sekolah dan univeristas. Misalnya di negera tetangga Indonesia, Australia. Di negara bagian Victoria bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran bahasa asing yang masuk dalam kurikulum pendidikannya. Dan hal yang mengejutkan sekali adalah Bahasa Indonesia sudah diperkenalkan sejak sekolah dasar.

Bahasa merupakan subjek yang luas. Ketika bahasa mulai dikenalkan dan diajarkan maka budaya pun ikut serta di dalamnya. Bahasa dan budaya merupakan dua elemen yang tidak dapat dipisahkan: keduanya saling melengkapi satu sama lain. Oleh sebab itu, pengenalan budaya dapat diajarkan melalui bahasa.

Hal ini yang terjadi pada pengejaran Bahasa Indonesia di luar negeri, Australia contohnya. Di negera ini budaya Indonesia diperkenalkan kepada siswa-siswa sekolah dasar yang mengajak mereka berkenalan dengan negara Indonesia: di mana Indonesia terletak, ada berapa jumlah pulau di Indonesia, berapa banyak jumlah penduduknya, bagamana kehidupan masyarakat di Indonesia, makanan dan minuman khas Indonesia, kesenian dan permainan tradisional Indonesia, dan hal-hal lain yang bersangkutan dengan Indonesia. Uniknya, mereka begitu menyukai kebudayaan Indonesia dan hal itu menimbulkan ketertarikan mereka untuk mempelajari bahasa Indonesia.

Di tingkat sekolah dasar, Bahasa Indonesia lebih ditekankan pada pengajarannya melalui pengenalan budaya. Para siswa diajak untuk mengetahui nama-nama benda, buah-buahan dan sayuran, hewan-hewan, dan lagu-lagu anak dalam permainan-permainan tradisional. Nama-nama tersebut dapat mulai dikaitkan dengan kalimat atau frasa singkat sebagai bekal dasar pembelajaran Bahasa Indonesia. Siswa-siswa di tingkat sekolah dasar ini umumnya senang dengan permainan dan berbagai kegiatan aktif yang memiliki hubungan dengan pembelajaran bahasa Indoensia. Misalnya dalam permainan congklak, siswa-siswa diajak untuk berkenalan dengan angka-angka dalam bahasa Indonesia dan mulai berhitung dalam bahasa Indonesia melalui permainan tradisional ini. Bermain sambil belajar. Itulah gambaran singkat kegiatan pengajaran BIPA di luar negeri di tingkat dasar.

Masuk ke tingkat menengah pertama, Bahasa Indonesai mulai ditingkatkan level pembelajarannya. Siswa mulai diajarkan menggunakan bahasa percakapan dalam Bahasa Indonesia dan diajak untuk melihat Indonesia lebih dekat. Di tingkat ini mereka mulai diperkenalkan pada tatanan budaya dan bahasa yang sedikit lebih kompleks dan interaksi sosial masyarakat Indonesia. Namun, kadang kala siswa tahun pertama pada tingkat menengah ini harus kembali diajak pada hal-hal mendasar terkait pengetahuan berbahasa dan budaya Indonesia sebab tidak semua memiliki dasar pengetahuan berbahasa dan budaya yang kuat atau bahkan tidak sedikit juga yang tidak memilikinya sama sekali. Hal ini disebabkan oleh masih adanya beberapa sekolah dasar yang belum memiliki Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran di sekolahnya dengan alasan keterbatasan sumber daya manusia.

Hal yang lebih menarik dan lebih menantang terjadi di tingkat menengah atas. Di tingkat ini. Bahasa Indonesia sudah menjadi mata pelajaran pilihan mereka yang berarti 89,99% dari pembelajarnya adalah mereka yang benar-benar serius ingin mempelajari Bahasa Indonesia. Jangan pernah remehkan kemampuan orang asing dalam berbahasa Indonesia. Jika anak SMA di Indonesia sudah pandai berbahasa Inggris, anak SMA di negeri  tetangga ini pun sudah cukup pandai berbahasa Indonesia. Mereka memang sudah mulai serius mempelajarinya. Sehingga materi yang diberikannya pun mulai kompleks. Seringkali pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat ini dihadapkan pada ‘pembedahan artikel’ yang memiliki tema cukup dewasa pula. Sebab, mereka diberikan pengajaran bahasa beserta pengetahuan luas melalui perspective bahasa kedua yang mereka pelajari. Hal ini bertujuan membantu mereka dalam mencapai pemahaman suatu objek dan kemampuan penyampaian objek tersebut dalam bahasa target.

 

Understanding Language (A Short Part of Future Learn’s Course)

Taking a short online course at Future Learn about language has somehow helped me to understand language better. This course is useful for those who either want to learn or teach language. How far have we understood language or second language acquisition? Here I would like to share what I have got from taking the online course on http://www.futurelearn.com

1. What is language? How do we acquire language? What factors affect language learning?
In my opinion, language is the robot of science. It is used to communicate with different people in the whole world. The first language is acquired at the age of 1 by listening and mimicking before it turns out to speaking, reading, and writing. Second or foreign languages can be acquired at various age. But it is crucial to learn second or foreign language as early as possible. Adults who learn a second or foreign language tend to be passive users: they often are well-received but very weak to deliver the languages. So, age is one of the factors which affect language learning process. It is the critical one. Another important factors are Environment, motivation, and the intensity of practizing the language itself.

Professor Roumyana Slabakova, in this course, said that the ability to learn and use languages is Tour most prized human ability. The ability to acquire and use language refers to lingualism and the ability to learn and use many languages throughout our lifetime refers to multilingualism which is another fundamental dimension of the human condition.

2. How do you use language in your life? And what do we know when we learn language?
Well, as I come from Indonesia, where most of the people are multilingualism, my mother tongue is Sundanese. At the age of 5 I started to learn Indonesian language and began to use it in the formal situation only. However, I do not think I have already mastered the two languages. At home, my family and I speak Sundanese, while outside I get mixed between Sundanese and Indonesian, and sometimes English. I have learned English since I was 10 years old. And I have been insisted to speak English in this globalization era. Recently, I have learned a little Russian, but I am safely able to speak in three languages: Sundanese, Indonesian, and English.

Professor Slabokova, here, explained that ability of the speaker is not only to produce an infinite number of sentences, but also to distinguish them from the ones that are not acceptable. Not only a sentences but of larger and smaller units of language, such as phrases or conversation. There is nothing genetic about language and it is the language acquisition ability that is genetic. But the Pacific languages come from the inputs that we are exposed to throughout our lifetimes. And learners have to be surrounded by linguistic input.

 

Sources:

  1. Course : http://www.futurelearn.com
  2. Image : http://mltawa.asn.au/2014/07/australian-curriculum-languages-officially-released/

Faktor Usia Dalam Pemerolehan Bahasa Kedua

A. Pembahasan

1. Hipotesis Critical PeriodCritical Period Hypothesis (CPH)

Hipotesis critical period ini merupakan sebuah perdebatan yang sudah cukup lama dalam linguistik dan pemerolehan bahasa atas sejauh mana kemampuan memperoleh bahasa itu secara biologis terkait dengan usia. Hipotesis ini mengklaim bahwa ada sebuah jendela waktu yang ideal untuk memperoleh bahasa dalam lingkungan bahasa yang luas, setelah semakin jauh bahasa itu diperoleh menjadi semakin lebih sulit dan memerlukan banyak usaha.

Dalam pemerolehan bahasa kedua, bukti yang paling kuat atas CPH adalah dalam pemerolehan aksen, yang mana kebanyakan orang dewasa tidak mampu mencapai pelafalan seperti penutur asli.

Critical Period Hypothesis ini pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli Neurologi dari Montreal, Wilder Penfield dan kawan penulisnya Lamar Roberts dalam buku mereka “Speech and Brain Mechanism” tahun 1959. Kemudian, hipotesis ini mulai dipopulerkan oleh Eric Lennerberg pada tahun 1967 dengan bukunya “Biological Foundations of Language.” Lennerberg menyatakan bahwa ada kendala-kendala pematangan saat bahasa pertama dapat diperoleh. Pemerolehan bahasa pertama mengandalkan pada kelenturan otak dan CPH ini berakhir pada masa pubertas di mana seseorang akan lebih sulit untuk memperoleh satu bahasa.

Teori Penfield, Roberts, dan Lennerberg berawal dari pemerolehan bahasa pertama dan penelitian terhadap kerusakan otak; anak-anak yang menderita pelemahan otak sebelum masa pubertas biasanya sembuh dan kembali berbahasa normal, sedangkan orang dewasa jarang kembali sembuh sepenuhnya dan banyak yang tidak dapat memperoleh kembali kemampuan berbicaranya jauh setelah lima bulan pasca pelemahan otak. Mereka menegaskan bahwa pemerolehan bahasa terjadi secara utama dan sendirinya pada masa kanak-kanak, sebelum otak kehilangan elastisitasnya setelah usia yang ditentukan. Otak kemudian akan menjadi sukar dan membeku, dan kehilangan kemampuan untuk beradaptasi dan mengorganisir kembali dalam menerjemahkan bahasa yang sulit dipelajari. Penelitian Penfield dan Roberts sendiri lebih memeriksa pada hubungan bahasa dan otak, yang mereka simpulkan bahwa bahasa lebih dominan pada bagian otak sebelah kiri. Penfield dan Roberts menyatakan bahwa anak-anak di bawah usia 9 tahun dapat mempelajari tiga bahasa; pemerolehan untuk bahasa yang berbeda mengaktifkan sebuah refleks di dalam otak yang membantu mereka untuk mengganti dari bahasa yang satu dengan bahasa yang lain tanpa merasa perlu untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa pertama. Lennerberg setuju dengan pendapat ini bahwa mekanisme kerja otak bertanggung jawab atas perubahan kematangan dalam kemampuan mempelajari bahasa, yang menghubungkan dengan kinerja otak bagian sebelah kiri sampai pada usia sekitar 13 tahun.

Berdasarkan pernyataan Lennerberg tersebut, di atas usia 13 tahun fungsi-fungsi pembelajaran bahasa terjadi pada kedua belah bagian otak – pada otak kiri dan otak kanan. Pada awal masa pubertas, fungsi-fungsi pada bagian belahan otak terpisah dan membuat pemerolehan bahasa menjadi sangat sulit. Ia menyimpulkan bahwa ada usia-usia tertentu yang pantas untuk mempelajari bahasa yang bagaimana pun juga telah menunjukkan keberadaan CPH dan kesulitannya dalam pemerolehan bahasa selama atau setelah masa itu.

Teori ini pada awalnya hanya diterapkan pada pemerolehan bahasa pertama saja dan hal ini terbukti benar pada penelitian terhadap seorang anak bernama Genie yang sejak kecil telah dinilai sebagai seorang anak yang bodoh dan mendapatkan perlakuan keras yang tidak pantas dari ayahnya. Sejak kecil ia tidak pernah memperoleh kesempatan untuk mempelajari bahasa atau diperkenalkan pada bahasa baik secara verbal maupun non-verbal, dan hal ini terus berlangsung hingga ia menjadi orang dewasa dan kemampuan untuk memperoleh bahasanya itu dinilai telah hilang.

Akan tetapi, kasus-kasus seperti Genie ini hampir tidak pernah ditemui dalam hal pembelajaran bahasa. Sehingga para peneliti tersebut beralih ke pemerolehan bahasa kedua yang kemudian dinilai cocok dengan CPH ini dan mulai mengembangkan berbagai kesimpulan terkait dengan penelitian mereka; dengan banyaknya fakta akan sejumlah orang dewasa yang memiliki ketidakmampuan dalam mencapai keberhasilan untuk memperoleh bahasa kedua, semakin menguatkan CPH ini.

2. Peranan Faktor Usia Dalam Pemerolehan Bahasa Kedua

Usia memberikan pengaruh berbeda pada fungsi otak dalam proses menerima bahasa kedua. Beberapa penelitian membuktikan bahwa anak-anak lebih cepat menerima bahasa kedua karena mereka memiliki kelenturan otak yang masih baik dalam menyesuaikan dengan situasi bahasa yang baru. Sementara itu, tidak sedikit pula penelitian yang membuktikan bahwa orang dewasa lebih baik dalam hal penerimaan bahasa kedua sebab orang dewasa memiliki jumlah kosa kata yang lebih banyak dan daya analisis yang baik terhadap tata bahasa asing (bahasa kedua yang dipelajari).

Dalam Wikipedia, pemerolehan bahasa kedua dibagi menjadi beberapa tahap:

  1. Preproduksi

Tahap ini juga dikenal dengan periode diam yang mana pembelajar tidak banyak bicara karena hanya memiliki kosa kata reseptif hingga 500 kata. Tetapi tidak semua pembelajar melalui periode diam karena ada beberapa pembelajar yang langsung melalui tahap bicara dengan kosa kata yang dihasilkan dari meniru, bukan hasil kreativitas sendiri. Pembelajar yang melalui periode diam ini biasanya berlangsung selama tiga sampai enam bulan.

  1. Produksi Awal

Dalam tahap ini pembelajar dapat berbicara dalam frasa pendek antara satu sampai dua kata dan mampu mengingat beberapa potongan kata dalam bahasa kedua meskipun masih banyak melakukan kesalahan dalam penggunaannya. Pembelajar memiliki kosa kata aktif maupun pasif hingga 1000 kata. Tahap ini berlangsung kurang lebih selama enam bulan.

  1. Awal Bicara

Pembelajar pada tahap ini memiliki kosa kata hingga 3000 kata dan sudah mampu berkomunikasi menggunakan kalimat tanya sederhana meskipun masih melakukan kesalahan gramatika.

  1. Fasih dan Mahir

Pembelajar pada tahap fasih ini sudah memiliki kosa kata lebih dari 6000 kata dan mampu menggunakan kalimat yang berstruktur kompleks dan mampu berbagi pendapat dengan lawan bicara. Akan tetapi kesalahan-kesalahan gramatikal masih terjadi ketika mereka merangkaikan kalimat-kalimat yang lebih kompleks lagi strukturnya.

Lalu pada tahap mahir yang biasanya dicapai oleh pembelajar setelah lima sampai sepuluh tahun belajar bahasa kedua dan kemampuan berbahasanya mendekati penutur asli.

“A good deal of controversy has been generated around whether the age at which someone is first exposed to a second language, in the classroom or naturalistically, affects acquisition of that language in any way.” (Freeman & Long, 1991:154)

Berdasarkan pernyataan tersebut, telah menjadi satu pertanyaan apakah usia saat seseorang pertama kali diperkenalkan pada bahasa kedua mempengaruhi bahasa kedua tersebut. Seseorang yang mulai mempelajari bahasa kedua pada usia 6 tahun dan orang yang baru mulai mempelajari bahasa kedua pada usia 25 tahun akan menghasilkan keberhasilan penguasaan bahasa kedua yang berbeda baik dalam segi fonologi maupun morfologi dan sintaksisnya. Pelafalan yang dicapai pun akan berbeda. Beberapa penelitian membuktikan bahwa usia anak-anak mendapatkan keuntungan dalam aspek fonologi saja di mana anak-anak dapat mengucapkan kata-kata dalam bahasa kedua hampir sama dengan penutur asli. Sementara itu, orang dewasa lebih cenderung diuntungkan dalam aspek morfologi dan sintaksis. Dalam Chaer (2009:252) dikatakan bahwa anak-anak tampaknya lebih mudah dalam memperoleh bahasa baru, sedangkan orang dewasa tampaknya mendapatkan kesulitan dalam memperoleh tingkat kemahiran bahasa kedua.

Kalangan yang menganggap bahwa anak-anak memiliki keunggulan dalam pembelajaran dikarenakan adanya teori CPH. Argumentasinya adalah bahwa anak-anak lebih unggul daripada orang dewasa dalam pembelajaran bahasa kedua dikarenakan otak mereka masih fleksibel (Lenneberg, 1967; Penfield dan Robert, 1959). Mereka dapat belajar dengan mudah karena bagian otak mereka lebih elastis dibanding pembelajar yang sudah dewasa.

Sebaliknya, para ahli teori yang menyimpulkan bahwa anak-anak dan orang dewasa mampu mencapai pemerolehan bahasa kedua dengan hasil yang sama, telah lebih leluasa dalam mengusulkan teori yang lebih mendekati pada sebuah model ‘B1 = B2’ dengan mekanisme dan proses pemerolehan yang sama dalam perkembangannya tanpa menghiraukan usia pembelajar.

Teori mengenai faktor usia dalam pemerolehan bahasa kedua memang cenderung membingungkan. Namun sebagaimana yang di kemukakan oleh Krashen, Long, dan Scarcella (1979),  pola-pola yang secara wajar muncul ialah adanya pembelajaran jangka pendek dan jangka panjang yang telah dibedakan dengan jelas. Mereka menyimpulkan bahwa yang lebih tua adalah yang tercepat, tapi yang muda yang lebih baik (older is faster, but younger is better).

Sebagaimana yang dimunculkan dalam pembelajaran jangka panjang ini, orang yang lebih muda terbilang lebih baik dalam area yang paling krusial, yang mana mereka mampu mempunyai pelafalan yang hampir mendekati penutur asli. Sementara itu, pada pembelajaran jangka panjang yang muncul adalah pembelajar yang lebih tua lebih di untungkan dalam pencapaian yang dasar; kecepatan mereka dalam memahami aspek morfologi dan sintaksisnya B2 cenderung bersifat sementara, lalu menghilang setelah beberapa bulan kemudian dalam beberapa kemampuan berbahasanya dan hal ini hanya akan bertahan apabila mereka (para pembelajar dewasa) melibatkan pembelajar yang lebih muda sebagai sandingan dalam pembelajaran B2.

Perbedaan usia mempengaruhi kecepatan dan keberhasilan belajar bahasa kedua pada aspek fonologi, morfologi, dan sintaksis; tetapi tidak mempengaruhi pemerolehan urutannya. Pemerolehan dalam bahasa kedua meliputi pemerolehan semantik, pemerolehan sintaksis, dan pemerolehan fonologi. Ketiga aspek ini merupakan komponen tata bahasa dalam sebuah proses kompetensi.

3. Pemerolehan Bahasa Kedua Pada Anak-anak dan Orang Dewasa

Ada dua proses yang terjadi ketiak anak-anak sedang memperoleh bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses performasi. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Sementara itu, performasi terdiri dari dua buah proses, yaitu proses pemahaman dan proses penerbitan atau proses menghasilkan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan atau kepandaian mengamati atau kemampuan memersepsikan kalimat-kalimat yang di dengar, sedangkan penerbitan melibatkan kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimat-kalimat sendiri. (Chaer, 2009:167).

Dalam Fromkin & Rodman (1983) tahapan pemerolehan bahasa pertama pada anak-anak terdiri dari the first sounds (suara pertama), babbling (ocehan), first words (kata-kata pertama), the Two-word stage (tahap pelafalan frasa pendek), dan from telegraph to infinity (pelafalan kalimat). Kemampuan seorang anak untuk menggeneralisasikan pola-pola dan bentuk gramatikal ditunjukkan dalam perkembangan pemerolehan fonologinya. Pada awalnya, anak-anak mungkin tidak dapat membedakan huruf konsonan yang berbunyi hampir sama. Ketika mereka mulai membedakan satu set konsonan –  yang mereka mulai ketahui bahwa /p/ dan /b/ adalah dua fonem yang berbeda – mereka juga mulai membedakan antara /t/ dan /d/, /s/ dan /z/, dan yang lainnya. Penguasaan fonologi dan morfologi pada anak-anak muncul lebih awal.

Anak-anak mulai mengenal bahasa kedua dan memperolehnya secara tidak sadar, idealnya pada usia 4 tahun; ketika mereka mulai mendapatkan pengaruh dari lingkungan bahasa sekitar yang tanpa disadari berhasil dicerna oleh otak anak. Sehingga proses meniru pun tanpa disadari telah terjadi. Tidak sedikit dari mereka yang menunjukkan keberhasilan dalam pencapaian pelafalannya lebih baik dari pada orang dewasa. Anak yang mempelajari bahasa kedua sebelum menginjak usia remaja, tampak memperoleh kemampuan berbahasa yang sama baiknya dengan bahasa pertama. Bahasa merupakan keunikan dalam sistem pengetahuan kompleks yang lebih mudah diperoleh pada usia 2 atau tiga tahun dari pada di usia 13 atau 20 tahun (Fromkin & Rodman, 1983:389).

Usia anak-anak 0-11 tahun merupakan periode di mana penguasaan bahasa terjadi secara alami dan dilakukan tanpa sengaja. Pada periode ini anak menemukan bunyi atau kalimat yang didengarnya dan mengucapkannya tanpa takut salah. Penfield dan Roberts (1959) berpendapat bahwa usia maksimum untuk penguasaan bahasa yang efektif biasanya berkisar antara dua sampai sebelas tahun. Pada usia ini otak masih lentur tetapi apabila sudah memasuki masa pubertas, elastisitas ini akan berangsur hilang. Keberhasilan pemerolehan bahasa pada masa-masa usia ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.

  1. Selama periode ini otak masih lentur;
  2. Kelenturan dalam otot-otot alat bicara;
  3. Memiliki kelebihan dalam segi afektif;
  4. Memiliki motivasi integratif yang kuat untuk belajar bahasa;
  5. Unggul dalam faktor psikomotor;
  6. Namun, cenderung lemah dalam morfologi dan sintaksis karena mereka belum memiliki banyak pengalaman berbahasa.

Sementara itu, usia pubertas (12-18 tahun) kinerja otak mulai menurun karena penurunan elastisitas otak itu sendiri. Pada masa pubertas, fungsi bahasa ke otak dominan telah selesai. Hal ini mengakibatkan hilangnya elastisitas bagian otak yang diperlukan dalam belajar bahasa secara ilmiah. Oleh karena itu, setelah pubertas bahasa harus diajarkan secara sadar namun tetap diusahakan sealami mungkin dan pada saat itu pengaruh aksen bahasa pertama anak sering tidak dapat diatasi dengan mudah.

Hal ini dibuktikan oleh Tahta, Wood, dan Loewenthal (1981) yang menemukan bahwa kemampuan sebuah kelompok yang berjumlah 231 anak-anak sekolah di Inggris yang berusia 5 sampai 15 tahun, untuk menirukan pelafalan kata-kata dan frasa berbahasa Prancis dan Armenia yang asing; kemampuan anak-anak untuk meniru intonasi pada frasa yang cukup panjang tetap baik selama usia 5 hingga 8 tahun, tapi kemudian menurun drastis antara usia 8 sampai 11 tahun dan tidak mengalami kemajuan apa pun hingga usia 15 tahun.

Dalam hal pemerolehan fonologi yang baik, sebagaimana yang telah ditemukan olah Payne (1980) akan pengaruh bahwa anak-anak yang pindah ke King of Prussia, sebuah kota kecil dekat Philadelphia, hanya mampu mencapai pelafalan seperti penutur aslinya pada tingkat second dialect fonologi jika mereka sampai di sana pada usia 6 tahun dan mempunyai orang tua yang berbicara dengan menggunakan aksen King of Prussia selama di rumah.

Freeman & Long (1991:157) menyimpulkan:“Eleven-to fifteen-year-olds outperformed Six-to ten-year-olds on morphology and syntax, although the younger Group did better on pronunciation.” (Usia 11 sampai 15 tahun melakukan lebih baik dari usia 6 sampai 10 tahun dalam morfologi dan sintaksis, walaupun kelompok yang lebih muda lebih baik dalam pelafalannya).

Paradigma yang dihasilkan dari berbagai penelitian memunculkan adanya teori critical period. Teori critical period ini banyak dipertanyakan oleh peneliti dan dianggap cukup kontroversi (Geneses, 1981; Harley, 1989; Newport, 1990). Bukti critical period yang berdasarkan fisik otak ini cukup mendapatkan tantangan. Bahkan terdapat argumentasi yang menyatakan bahwa perbedaan tingkat penyerapan dalam pembelajaran bahasa lebih disebabkan faktor psikologi dan sosial, ketimbang faktor fisik. Hal ini diperkuat dengan melihat realitas motivasi belajar anak-anak yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak dewasa. Bahkan, semangat komunikasi yang terjadi dalam play group atau sekolah dasar lebih tinggi dibandingkan dengan yang terjadi di komunitas anak-anak dewasa (sekolah menengah) atau dewasa (di dunia kerja). Pembelajaran bahasa di tingkat anak-anak lebih berhasil memosisikan anak-anak dalam situasi yang dipaksa untuk bicara dibandingkan dengan anak-anak dewasa.

Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan terhadap keberhasilan pemerolehan bahasa kedua pada anak-anak dan orang dewasa, sebagian besar masyarakat masih meyakini bahwa anak-anak lebih berhasil dalam memperoleh bahasa kedua dari pada orang dewasa, terutama jika berhubungan dengan hasil akhir. Orang dewasa cenderung lebih sulit dalam memperoleh bahasa kedua karena kemampuan bahasa pertama mereka sudah sangat baik sehingga akan sulit untuk menguasai bahasa kedua tanpa adanya gangguan dari bahasa pertama; baik dalam pelafalannya maupun dalam sintaksisnya.

Akan tetapi banyak juga penelitian yang membuktikan bahwa orang dewasa tidak selalu mengalami kegagalan atau kesulitan yang tinggi dalam mempelajari bahasa kedua. Pengetahuan dan pengalaman berbahasa mereka adalah satu kunci utama dalam menunjang keberhasilannya untuk memperoleh bahasa kedua dengan sebaik mungkin. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya; orang dewasa lebih diuntungkan dalam ranah morfologi dan sintaksis dari pada fonologi. Hambatan yang terjadi pada orang dewasa hanya berpusat pada masalah aksen saja yang sulit mereka rubah untuk dapat menyerupai aksen penutur asli. Sebaliknya, mereka lebih cepat dalam memahami struktur kebahasaan pada B2 dan mampu mengembangkan kalimat-kalimat yang kompleks seiring dengan besarnya pengalaman berbahasa mereka.

Orang dewasa lebih mampu memecahkan permasalahan gramatikal B2 dari anak-anak. Scarcella dan Higa (1982) dalam Freeman & Long (1991:165) menyatakan: “… younger learners may receive simpler input, but older learners may obtain better (more comprehensible) input because they are more likely and better prepared to negotiate it.” (Pembelajar yang lebih muda mungkin menerima input yang lebih sederhana, tetapi pembelajar lebih tua mungkin menghasilkan input lebih baik (lebih dapat dipahami) karena mereka kemungkinan besar lebih siap dan lebih baik dalam mengatasinya.

Pemerolehan bahasa kedua pada orang dewasa lebih sering disarankan untuk dilakukan dalam situasi formal. Hal ini dilakukan guna meningkatkan kembali kemampuan psikomotor pembelajar dalam menciptakan lingkungan berbahasa yang aktif. Tidak menutup kemungkinan bahwa nantinya para pembelajar dewasa ini juga akan memperoleh aksen yang hampir menyerupai penutur asli pada umumnya meskipun aksen bahasa pertamanya masih akan tetap ada. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Krashen yang setelah satu Minggu lamanya merenungkan tentang kebenaran CPH; walaupun perkembangan bahasa akan berjalan agak berbeda dan melibatkan mekanisme-mekanisme pembelajaran yang berbeda pula setelah masa pubertas, perkembangan signifikan terhadap bahasa kedua masih dinilai mungkin.

B. Simpulan

Usia menjadi salah satu pengaruh terhadap keberhasilan dalam pemerolehan bahasa kedua yang bersifat krusial. Masa kanak-kanak menjadi masa-masa yang dinilai mudah dalam memperoleh bahasa kedua secara tidak sadar dan mendapatkannya melalui proses yang terbilang alami. Sementara itu, masa pubertas dinilai sebagai satu masa yang sulit untuk memperoleh bahasa kedua dalam situasi yang tidak di sadari – orang dewasa lebih mendapatkan kesulitan dan hambatan yang nyata dalam mendapatkan kemampuan untuk dapat berhasil dalam memperoleh bahasa kedua.

Akan tetapi, anak-anak dan orang dewasa memiliki daerah-daerah kebahasaan yang menguntungkan masing-masing dalam memperoleh bahasa kedua. Problematik yang nyata pada pemerolehan bahasa bersumber dari aksennya saja; anak-anak lebih diuntungkan dalam pemerolehan fonologi sementara orang dewasa lebih diuntungkan dalam pemerolehan dan pemahaman morfologi dan semantik bahasa kedua.

Oleh karena itu, critical period hypothesis yang diterapkan pada proses pemerolehan bahasa kedua dinilai lemah karena pada kenyataannya masih banyak orang yang setelah melalui masa pubertasnya mampu menguasai bahasa kedua dengan baik dan menunjukkan perkembangan yang signifikan, walaupun proses tersebut terbilang cukup lambat dari proses yang terjadi pada anak-anak.

DAFTAR PUSTAKA

 

______. Critical Period Hypothesis.  http://en.wikipedia.org/wiki/Critical_period_hypothesis, 21 November 2014

______. Eric Lenneberg. From http://en.wikipedia.org/wiki/Eric_Lenneberg. 21 November 2014

_____. Pemerolehan Bahasa Kedua. http://id.wikipedia.org/wiki/Pemerolehan_bahasa_kedua. 01 November 2014

Freeman, Diane Larsen & Michael H Long. (1991). An Introduction to Second Language Acquisition Research. Longman: London.

Fromkin, Victoria & Robert Rodman. 1988. An Introduction to Language 4th Ed. Holt, Rinehart and Winstom: New York.

Kosturanova, Marija. (2012). History of The Critical Period Hypothesis. http://criticalperiodhypothesis.blogspot.com/p/history-of-cph_21.html. 21 November 2014

Mulyana, Agus. (2011). Umur dan Pemerolehan Bahasa. http://itcentergarut.blogspot.com/2011/01/umur-dan-pemerolehan-bahasa.html. 07 November 2014

Purwosunarto, Nodya. (2013). Faktor Usia Dalam Pemerolehan Bahasa. http://hestunodya.blogspot.com/2013/11/faktor-usia-dalam-pemerolehan-bahasa.html. 10 November 2014

Schouten, Andy. (2009). The Critical Period Hypothesis: Support, Challenge, And Reconceptualization. https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=11&cad=rja&uact=8&ved=0CHYQFjAK&url=http%3A%2F%2Fjournals.tc-library.org%2Findex.php%2Ftesol%2Farticle%2FviewFile%2F462%2F278&ei=9UxvVKNT5rKYBYegYAM&usg=AFQjCNFfg18ECm56IgQSV_RkSfpn6rCCAA&bvm=bv.80185997,d.dGY [Pdf]. 22 November 2014

Wagner, Jennifer. _____ . Second Language Acquisition.   https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=0CDEQFjAD&url=http%3A%2F%2Fwww.ielanguages.com%2Fdocuments%2Fpapers%2FSLA%2520Project%25201.pdf&ei=OSpvVNLlDbTmgWZ8YGQBQ&usg=AFQjCNFVPYvcAlsd9ptWSFcn31qeNZmtng&bvm=bv.80185997,d.c2E [Pdf]. 20 November 2014

Relevance Theory

Relevance Theory
By Siti Sopiah

A.Latar Belakang
Teori Relevansi ini muncul sebagai sebuah bentuk ketidaksetujuan Sperber dan Wilson terhadap Prinsip Kerjasama milik Grice; dimana Grice mengungkapkan bahwa agar suatu komunikasi bisa berjalan dengan baik maka penutur dan mitra tutur harus mematuhi empat maksim, yaitu maksim kualitas, maksim kuantitas, maksim hubungan/relevansi, dan maksim cara. Pernyataan ini ditentang oleh Sperber dan Wilson yang berpendapat bahwa hal yang paling terpenting dalam berkomunikasi adalah maksim hubungan/relevansi yang kemudian maksim ini dikembangkan secara optimal oleh kedua tokoh ini hingga membentuk sebuah prinsip yang esensial/Prinsip Relevansi. Sperber dan Wilson menganggap bahwa ketika bertutur penutur sudah mencoba untuk serelevan mungkin, dan kerelevanan ini ditunjang oleh dua hal; konteks dan kognisi.
Perhatikan percakapan berikut:
A : “Bang, main yuk!”
B : “Bentar lagi jam lima euy.”
A : “Oh, ya udah besok aja atuh kalau gitu mah.”
Jika kita melihat pada percakapan tersebut dan mengkaitkannya dengan PK Grice maka percakapan tersebut dianggap tidak relevan karena untuk menolak atau menerima ajakan ‘A’ , ‘B’ hanya perlu menjawabnya dengan kata ‘tidak bisa’ atau ‘Yuk!’ Akan tetapi ‘B’ lebih memilih untuk menjawab ‘Bentar lagi jam lima euy!’ yang secara tidak langsung sudah menolak ajakan ‘A’. Dalam konteks ini, ‘A’ sudah mempunyai pengetahuan terhadap situasi B dan mampu memahami maksud dari jawaban ‘B’ bahwa B tidak bisa pergi main karena sudah sore dan harus cepat pulang atau karena B sudah mempunyai acara lain yang lebih penting, sehingga A tidak perlu memproses jawaban B lebih jauh lagi karena B sudah berhasil dalam menyampaikan makna utamanya tersebut.
Oleh karena itu, percakapan di atas sudah bisa dikatakan relevan karena baik penutur maupun mitra tutur sudah memahami konteks yang melingkupi tuturan tersebut dan makna yang dimaksud pun mudah untuk ditangkap.

B. Explicature, Higher Level Explicature, dan Implicature
Perhatikan contoh berikut:
I : “Hayu pulang!”
R : “Ih, Aku ga bawa motor.”

Interpretasi dari suatu ujaran dapat berbentuk ekslpikatur, higher lever eksplikatur, dan implikatur. Berdasarkan contoh diatas, ketika R mengatakan ‘Ih, aku ga bawa motor’ dapat diinterpretasikan sebagai eksplikatur ketika I menanggapinya dengan anggapan bahwa R hari ini tidak membawa motor dan harus pulang naik kendaraan umum. Sedangkan apabila I menanggapi tuturan R dengan anggapan bahwa I harus membantu dalam mencarikan R tumpangan, atau R harus segera pulang karena harus naik kendaraan umum, atau I harus mengantar R pulang, maka tuturan R telah diinterpretasikan sebagai higher lever explicature dimana I merasa dilibatkan dalam konteks tuturan R. Sementara itu, dalam tuturannya, R telah menimbulkan makna implikatur karena secara jelas tuturan R mempunyai bentuk logika dari benar-benar berbeda dari tuturan aslinya dimana dalam konteks ini R menyatakan bahwa ia meminta I untuk mengantarnya pulang, atau R harus pulang lebih dulu karena dia tidak membawa kendaraan pribadi.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa eksplikatur adalah pengembangan makna terhadap suatu bentuk tuturan dari makna aslinya; higher level explicature adalah pengembangan makna terhadap suatu tuturan yang melibatkan hubungan yang proposional antara penutur dan mitra tutur; dan implikatur adalah makna tersirat yang terdapat dalam suatu tuturan yang memiliki bentuk lain dari tuturan aslinya.

C.Indeterminacy (Penyederhanaan)
Menurut Sperber dan Wilson, ketika bahasa digunakan untuk sebuah komunikasi maka akan muncul konstituen atau elemen lainnya yang memang dibutuhkan atau sengaja diletakkan atau (dipersepsikan) agar adanya saling pengertian diantara pembicara dan pendengar. (Grundy, 2008:137)
Dalam berkomunikasi sehari-hari, bentuk penyederhanaan ini sangat sering digunakan guna mengefektifkan tuturan. Contohnya, ketika kita pergi ke pasar lalu berhenti di depan penjual sayuran (misalnya kangkung), maka bentuk komunikasi itu akan dimulai dengan ujaran:
‘Berapa?’
Pada situasi ini, ketika saya bertanya pada penjual sayuran ‘Berapa?’ konstituen yang muncul adalah ‘Kangkung ini berapa satu ikatnya?’ dalam pikiran si penjual sehingga saya tidak perlu lagi memproses ujaran saya kedalam bentuk ujara yang lebih merinci lagi karena penjual sudah memahami dan mampu menangkap maksud saya.

D.Procedural and Conceptual Encoding
‘Bangbang adalah orang yang sangat pendek.’
Conceptual encoding memandang keutuhan kalimat (secara gramtikal) dalam kalimat tersebut. Sementara itu, procedural encoding memandang makna yang terdapat dalam ujaran tersebut dengan berfokus pada kata ‘sangat’ (adverbia) yang member penekanan makna terhadap ujaran tersebut. Akan menimbulkan suatu persepsi yang berbeda apabila saya hanya mengatakan ‘Bangbang adalah orang yang pendek.’

E.Prinsip Relevansi
1.Bahwa setiap ujaran memiliki relevansinya masing-masing.
2.Penutur harus memperhatikan situasi dan background knowledge guna menjalin suatu komunikasi yang relevan dengan mitra tutur.
3.Suatu struktur kebahasaan memiliki pengaruh terhadap suatu ujaran sehingga dapat menimbulkan persepsi yang berbeda.
4.Sumber kontekstual memungkinkan mitra tutur untuk menyimpulkan pemahaman yang relevan.
5.Penafsiran yang paling dapat dicapai oleh mitra tutur merupakan penafsiran yang paling relevan.
6.Konteks pembicaraan diambil dari informasi yang ada dalam memori penutur dan mitra tutur.